Anak Tantrum? Ini 7 Cara Mengatasinya!

Masalah yang berkaitan dengan emosional merupakan bidang yang cukup kompleks, baik gejala maupun penyebabnya. Hal tersebut sulit untuk diketahui jika dibandingkan permasalahan medis lainnya. Terlebih jika masalah emosional terjadi pada anak yang sulit atau belum mampu mengutarakan keinginannya. Salah satu gangguan emosional yang sering muncul adalah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol atau sering kita sebut temper tantrum (tantrum) pada anak.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Kondisi juga lebih sering terjadi pada anak-anak “sulit” dengan ciri-ciri memiliki kebiasaan tidur dan buang air besar tidak teratur, sulit makan, takut ketika bertemu orang baru, lambat beradaptasi terhadap perubahan, mudah marah, dan sulit dialihkan perhatiannya. Setiap individu tentunya memiliki emosi, demikian pula anak-anak. Sebenarnya anak-anak lebih emosional dibandingkan orang dewasa, karena anak belum mampu mengendalikan emosi mereka sendiri.

anak tantrum
Sumber: iStockPhoto

Penyebab Tantrum

Umumnya, tantrum akan terjadi pada tahun kedua kehidupan, yaitu ketika perkembangan bahasa anak baru mulai berkembang. Pada kasus tertentu, tantrum mungkin dapat disebabkan oleh gangguan perilaku atau gangguan mental yang lain, salah satunya adalah autisme. Tantrum juga sering didapati pada anak yang sangat dimanjakan (overindulgent), orangtua dengan tingkat kecemasan yang berlebihan (oversolicitous), atau orangtua yang terlalu ingin melindungi anaknya (overprotective).

Tantrum pada awalnya adalah respons tidak menyukai pada perlakuan secara fisik, tetapi tantrum juga merupakan suatu usaha anak untuk mendapatkan hadiah dari orangtuanya. Tujuan tantrum adalah menarik perhatian orangtuanya. Kondisi ini biasanya akan menjadi lebih buruk pada anak karena beberapa hal:

  1. Lapar
  2. Sangat kelelahan
  3. Tidak berdaya
  4. Perubahan mendadak
  5. Mencari perhatian
  6. Tidak mendapatkan benda yang diinginkan
  7. Benda miliknya diambil secara paksa
  8. Orangtua tidak mengerti apa yang dikatakan atau diinginkan oleh anak
  9. Tidak mempunyai cara atau kata-kata yang ingin diutarakan
  10. Anak yang merasa cemas, tertekan atau terganggu
  11. Ketidakmampuan anak memecahkan masalah
Baca juga:  Congklak: Cara Bermain dan 9 Manfaatnya bagi Anak-Anak

Cara Mengatasi Tantrum pada Anak

Berikut ini cara yang dapat diikuti untuk mengendalikan atau mengatasi tantrum: 

1. Tetap Tenang

Saat anak tantrum, kamu harus tetap tenang dan jangan membalas berteriak atau memaksa anak menghentikan amukannya. Sikap yang tenang akan membuat tantrum lebih mudah untuk diatasi. Kamu juga bisa memeluk anak tanpa berkata apapun. Pelukan bisa membuat anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya peduli, walau Anda tidak setuju dengan ulahnya. Berikan dekapan erat yang tegas, bukan pelukan sayang untuk menidurkan.

2. Jangan Mengubah “Tidak” Menjadi “Ya”

Biasanya, anak akan tantrum ketika keinginannya dipenuhi. Orangtua yang tidak ingin perilaku tantrum anaknya dilihat oleh umum akan memenuhi agar dia tidak tantrum lagi. Ternyata hal ini salah besar, lho. Mengiyakan semua yang anak inginkan membuatnya akan menjadikan tantrum sebagai “senjata” untuk mendapatkan apa yang ia mau. Buatlah penegasan jika kamu menolak kemauan anak.

3. Cari Tahu Penyebab Tantrum

anak tantrum
Sumber: iStockPhoto

Beragam hal bisa menjadi penyebab tantrum pada anak, seperti keinginan yang tidak terpenuhi atau adanya perasaan lapar dan mengantuk yang sulit diungkapkan. Jika anak belum bisa berbicara, salah satu cara untuk mengenali penyebabnya adalah dengan menanyakan secara langsung, “Kamu lapar?” atau “Kamu masih ngantuk?”. Anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng. Jika penyebab tantrum diketahui, maka kamu akan lebih mudah mengatasinya.

4. Jangan Mengancam dengan Hukuman

Untuk mengatasi tantrum, pola asuh otoritatif lebih cocok untuk diterapkan. Jadi, jangan memukul atau mencubitnya. Ini justru dapat membuat anak jadi suka memukul untuk menyampaikan keinginannya. Sebagai gantinya, kamu bisa memeluk atau mencium anak untuk menenangkan emosinya. Selain menenangkan, pelukan dan ciuman juga bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar peduli dan mencintai mereka.

Baca juga:  Jangan Sangah Sangka, Ini 5 Perbedaan Telat Haid dengan Hamil

5. Alihkan perhatian Si Kecil

Anak kecil sangat mudah melupakan sesuatu dan tertarik pada hal baru. Kamu bisa memanfaatkan hal ini untuk mengalihkan perhatiannya saat tantrum. Misalnya, kamu bisa memberikan mainan yang sudah lama tidak dimainkan atau memberikan camilan kesukaannya saat anak berteriak, marah, atau terlihat rewel. Dengan begitu, anak akan mudah teralihkan dan tidak tantrum.

6. Tenangkan Anak di Ruangan yang Sepi Atau Jauh dari Keramaian

anak tantrum
Sumber: iStockPhoto

Ketika anak tantrum di keramaian, ajaklah dia tempat yang cukup sepi untuk meredakan tantrum. Kamu juga bisa memberikan nasihat atau menjelaskan tentang yang terjadi kepada anak. Selain menghindari keributan di tempat umum, kamu juga bisa memberikan ruang untuk anak meluapkan emosinya dengan aman. Dengan begitu, anak akan menyadari jika tantrum di ruang umum akan menyebabkan keributan.

7. Jangan Jelaskan Apapun Saat Anak Masih Tantrum

Cara terakhir mengatasi tantrum pada anak adalah dengan tidak berbicara apapun. Menjelaskan sesuatu yang terjadi saat anak tantrum tidak akan membuat dia berhenti rewel. Oleh karena itu, kamu bisa menunggu hingga emosinya mereda lalu ajak bicara dari hati ke hati. Dengan begitu, anak merasa diperhatikan oleh orangtuanya.

Cara Mencegah Timbulnya Tantrum

anak tantrum
Sumber: iStockPhoto

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mencegah timbulnya tantrum, terutama ketika kamu dan anak berada di tempat umum:

  1. Siapkan mainan atau benda kesukaannya. Agar si kecil tidak tantrum karena bosan, siapkan mainan, buku bacaan, atau camilan.
  2. Luangkan waktu untuk beristirahat. Jika ia mulai terlihat tidak aktif ke sana-kemari, bertanya banyak hal, dan cenderung lebih diam, ini bisa menjadi tanda bahwa anak mulai kelelahan dan butuh istirahat.
  3. Sounding. Beri tahu ia mengenai kegiatan apa saja yang akan dilakukan di tempat baru.

Pada usia tertentu, anak tantrum untuk menunjukkan apa yang menjadi keinginannya karena dirinya belum tahu cara lain untuk mengekspresikannya. Kuncinya, orangtua harus sabar dan penuh cinta dalam membantu anak untuk bisa mengekspresikan keinginan mereka melalui kata-kata atau menunjukkan kemarahan dengan cara yang sesuai.