Mendengkur Saat Tidur? Waspada, Mungkin Gejala Sleep Apnea

Apakah kamu sering merasa tidur terganggu di malam hari? Tiba-tiba batuk dan tersedak hingga terbangun saat tidur pulas? Sering mengorok saat tidur? Jika jawabannya “iya” maka hal ini perlu di waspadai, karena bisa jadi Anda menderita sleep apnea. Apa itu Sleep Apnea? Untuk pembahasannya lebih lanjut, yuk kita lihat ulasannya di bawah ini.

Apa itu Sleep Apnea?

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan seseorang terhenti sementara selama beberapa kali saat sedang tidur. Kondisi ini dapat ditandai dengan mengorok saat tidur dan tetap merasa mengantuk setelah tidur lama.

Istilah apnea pada sleep apnea berarti pernapasan terhenti atau berhenti bernapas. Penderita sleep apnea dapat berhenti bernapas selama sekitar 10 detik sebanyak ratusan kali selama tidur.

Penyebab Sleep Apnea

apa itu sleep apnea

Henti napas pada sleep apnea disebabkan oleh beberapa faktor yang terbagi dalam tiga jenis sleep apnea berdasarkan penyebabnya berikut ini:

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah jenis sleep apnea yang paling umum dan banyak terjadi. Henti napas pada OSA disebabkan karena adanya sumbatan pada saluran pernapasan yang menyebabkan udara tidak dapat masuk sehingga napas berhenti.

Sumbatan ini muncul akibat otot saluran pernapasan terlalu rileks pada saat tidur. Sehingga tidak sanggup menjaga jaringan lunak seperti lidah, amandel dan uvula tetap pada tempatnya. Akibatnya, jaringan lunak jatuh menimpa tenggorokan, yang merupakan jalan udara menuju paru-paru.

Saat napas berhenti, otak akan mengirim sinyal pada tubuh untuk bangun dan bernapas lagi. Pada fase tersebut, tubuh akan memberikan respons berupa tersedak atau batuk tiba-tiba agar otot saluran pernapasan kembali menguat dan jaringan lunak terangkat.

Namun setelah jalan udara terbuka dan napas kembali lancar, tubuh akan mulai tertidur lagi. Saat itulah OSA kembali terjadi, otot mengendur, jaringan lunak jatuh dan napas berhenti. Satu siklus OSA dapat terulang hingga lebih 50 kali perjam terus menerus sepanjang malam.

2. Central Sleep Apnea (CSA)

Central Sleep Apnea (CSA) adalah periode henti napas yang disebabkan oleh gangguan komunikasi antara otak dengan otot-otot yang mengatur sistem pernapasan. Kegagalan otak mengirim perintah bernapas inilah yang mengakibatkan napas berhenti meskipun tidak ada sumbatan pada saluran udara.

Baca juga:  7 Sumber Vitamin Penambah Stamina yang Baik untuk Tubuh

CSA merupakan jenis sleep apnea yang jarang terjadi dibandingkan OSA. Meski begitu, CSA tetap memerlukan penanganan serius karena penderita CSA juga mengalami penurunan saturasi oksigen saat napas berhenti.

3. Mixed Sleep Apnea (MSA)

Mixed Sleep Apnea (MSA) adalah kondisi henti napas gabungan antara OSA dan CSA. Penderita MSA, dapat memiliki sumbatan pada saluran napas yang membuatnya berhenti bernapas, sekaligus juga mengalami CSA dimana napas berhenti meskipun saluran udara tetap terbuka. Penanganan MSA biasanya mirip dengan penanganan yang diberikan untuk OSA.

Baca : 3 Tips Memilih Sabun Mandi untuk Kulit Gatal Alergi

Gejala Sleep Apnea

apa itu sleep apnea
Sumber: Unsplash

Sleep apnea bukanlah penyakit langka, melainkan gangguan tidur yang umum terjadi. Bahkan, sleep apnea termasuk dalam lima gangguan tidur yang paling banyak terjadi seperti insomnia dan narkolepsi.

Sayangnya sleep apnea seringkali tidak terdiagnosis karena banyak orang tidak menyadari gejala yang mereka alami. Beberapa gejala sleep apnea memang sulit dirasakan secara langsung oleh penderitanya karena terjadi saat mereka sedang tertidur.

Namun, gejala-gejala ini dapat disadari oleh rekan dan anggota keluarga yang tidur bersama. Beberapa gejala sleep apnea yang dapat dipantau oleh orang lain antara lain:

  • Mendengkur kencang
  • Tersedak atau batuk tiba-tiba saat tidur
  • Terlihat seperti berhenti bernapas sejenak
  • Sering terbangun dan buang air kecil di malam hari
  • Tampak gelisah dan tidak tenang saat tidur

Selain gejala-gejala diatas, penderita sleep apnea juga dapat merasakan dampak sleep apnea secara langsung pada kondisi kesehatan mereka. Gejala sleep apnea yang dapat dirasakan secara langsung oleh penderitanya antara lain:

  • Mengantuk berlebihan di siang hari
  • Tubuh tetap terasa lelah dan letih meskipun sudah tidur cukup lama
  • Sakit kepala di pagi hari
  • Mulut dan tenggorokan terasa kering atau perih saat bangun tidur
  • Lebih sensitif dan suasana hati mudah berubah-ubah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Gairah seksual menurun

Beberapa orang mungkin merasa gejala-gejala diatas hanyalah kondisi sementara yang akan membaik dengan tidur lebih lama. Jangan salah! Sleep apnea adalah gangguan tidur yang terjadi saat kamu terlelap. Jadi meskipun kamu menambah waktu istirahat, hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah sleep apnea.

Apabila kamu mengalami gejala-gejala diatas kemungkinan besar kamu mengidap sleep apnea. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan tidur (sleep diagnostic test) untuk melihat kualitas tidur, tingkat keparahan sleep apnea serta mendapatkan solusi efektif atas keluhanmu.

Baca juga:  7 Cara Mengatasi Badan Lemas dan Gemetar, Dijamin Ampuh!

Cara Pencegahan Sleep Apnea

Cara untuk mencegah sleep apnea adalah dengan mengontrol faktor risikonya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan berhenti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol. Apabila Anda sulit berhenti merokok atau menderita kecanduan alkohol, konsultasikan dengan dokter agar mendapatkan terapi.

Jika Anda menderita obesitas atau bahkan obesitas morbid, berkonsultasilah dengan dokter gizi untuk menjalani program penurunan berat badan agar risiko terkena sleep apnea lebih rendah. Dokter gizi akan mengatur pola makan yang sesuai dengan kondisi Anda dan menetapkan target penurunan berat badan yang aman.

Baca Juga: Nafas Bayi “Grok-Grok”, Apakah Berbahaya?

Pengobatan Sleep Apnea

Pengobatan apnea tidur tergantung pada kondisi pasien dan tingkat keparahan sleep apnea yang dialaminya. Sleep apnea ringan dapat ditangani secara mandiri, misalnya dengan menurunkan berat badan, berhenti merokok, berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, dan mengubah posisi tidur menjadi menyamping atau tengkurap.

Jika kondisinya sudah cukup parah, sleep apnea perlu mendapatkan penanganan medis, antara lain dengan:

Terapi khusus

Jika perubahan pola hidup tidak berhasil mengatasi gejala apnea tidur atau jika gejala yang muncul sudah cukup parah, penderita dianjurkan untuk menjalani terapi dengan alat-alat berikut:

1. CPAP (continuous positive airway pressure)

Alat ini digunakan untuk meniupkan udara ke saluran pernapasan melalui masker yang menutupi hidung dan mulut penderita sleep apnea saat tidur. Tujuan terapi CPAP adalah untuk mencegah tenggorokan menutup dan meredakan gejala-gejala yang muncul, seperti mengorok.

2. BPAP (bilevel positive airway pressure)

Alat ini bekerja dengan cara menaikkan tekanan udara saat pasien menarik napas dan menurunkan tekanan udara saat pasien mengembuskan napas. Dengan begitu, pasien akan lebih mudah untuk bernapas. Alat ini juga bisa menjaga agar jumlah oksigen dalam tubuh pasien tercukupi.

3. MAD (mandibular advancement device)

Alat ini didesain untuk menahan rahang dan lidah untuk mencegah penyempitan pada saluran pernapasan yang menyebabkan seseorang mendengkur. Namun, MAD tidak dianjurkan bagi penderita apnea tidur yang parah.

4. Operasi

Jika perubahan gaya hidup dan terapi dengan alat-alat di atas masih tidak berhasil memperbaiki gejala sleep apnea dalam 3 bulan, langkah selanjutnya yang dapat dipertimbangkan adalah operasi.

Sekarang sudah tahu kan tentang apa itu sleep apnea? Walaupun terlihat biasa, faktanya kondisi sleep apnea terkadang bisa berakibat fatal dan berbahaya. 

Jika kamu mulai mengalami gejala di atas, jangan lupa untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan dan melakukan konsultasi pada dokter. Jangan sampai terlambat dan menunggu parah ya.