Borderline Personality Disorder: Ciri-Ciri dan Cara Mengatasinya

Penyakit mental dapat berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari penderitanya. Salah satunya adalah BPD (borderline personality disorder), yang mempengaruhi cara orang memandang diri sendiri dan orang lain. Ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental ini, orang-orang terdekatnya dapat ikut terpengaruh. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengakibatkan depresi mayor dan bipolar.

Sekitar 1–4% orang di dunia mengalami BPD atau atau gangguan kepribadian ambang. Gangguan ini umumnya muncul pada masa remaja akhir atau dewasa muda dan lebih sering dialami oleh wanita. Maka dari itu, penyakit mental satu ini perlu mendapatkan penanganan secara tepat dari dokter atau ahli medis terkait. Bagaimana langkah diagnosis dari dokter psikiater mengenai BPD ini? Untuk mengetahuinya, simak ulasan berikut, ya!

borderline personality disorder
Stressed young woman alone in the room.

Pengertian Borderline Personality Disorder (BPD)

Gangguan kepribadian ambang / borderline personality disorder (BPD) adalah gangguan kepribadian yang mempengaruhi cara berpikir, cara pandang, serta kemampuan merasakan sesuatu terkait dengan dirinya sendiri dan orang lain. Orang dengan kondisi ini memiliki suasana hati dan citra diri yang tidak stabil diikuti dengan perilaku impulsif, serta kesulitan dalam mengelola emosi.

Akibatnya, orang dengan kondisi ini kerap kali kesulitan untuk menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. BPD biasanya terjadi di usia dewasa awal dan gejalanya semakin memburuk seiring waktu. Meski begitu, ketika memasuki usia tua, penderitanya dapat membaik secara bertahap. BPD sangat mungkin menyebabkan penyakit mental lain, seperti:

  • Depresi dan gangguan kecemasan
  • Gangguan bipolar atau gangguan stres pasca trauma (PTSD)
  • Kecanduan atau gangguan makan
  • ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder)

Gejala BPD

Tidak mudah untuk membedakan gejala BPD dari penyakit mental lainnya. Namun umumnya, borderline personality disorder dapat didiagnosis dengan mengamati tanda dan gejala berikut ini:

1. Takut Berlebihan

Orang-orang dengan kondisi biasanya memiliki ketakutan serius jika diabaikan atau ditinggal. Mereka kadang memiliki reaksi ekstrem seperti panik, depresi, marah atau tindakan heboh jika merasa atau benar-benar ditinggalkan.

2. Sulit Menjaga Hubungan

Pengidap BPD juga tidak dapat menjaga hubungan dengan stabil, bahkan dengan keluarga, teman atau orang-orang terdekat. Mereka sering menyebabkan masalah di hubungan tersebut dengan mengidealkan seseorang dan kemudian membenci atau marah terhadap orang tersebut secara tiba-tiba.

3. Rendah Diri

borderline personality disorder
Close up of young woman struggling from mental breakdown

Suasana hati orang dengan BPD sangat mudah berubah, dengan masing-masing episode berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari yang dapat mencakup kebahagiaan yang intens, kekesalan, malu atau gelisah. Hal ini membuat mereka kerap tidak menghargai diri sendiri, dan kadang menganggap bahwa keberadaan dirinya tidaklah penting.

Baca juga:  Apa Itu Gangguan Psikosomatis? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

4. Kecanduan

Penderita BPD juga kerap menunjukkan perilaku yang impulsif yang mengarah pada kecanduan dan kadang berbahaya, seperti :

  • Gemar berjudi
  • Suka menghamburkan uang
  • Hubungan seksual yang tidak aman
  • Penyalahgunaan obat-obatan
  • Berkendara dengan sembarangan
  • Binge eating (makan berlebihan tanpa kendali).

5. Tindakan Melukai Diri Sendiri (Self Harm)

Sekitar 4-9% orang dengan BPD cenderung memiliki perilaku ingin bunuh diri. Pada masalah mental, bunuh diri adalah akibat yang paling tragis. Perilaku melukai diri sendiri tidaklah seserius percobaan bunuh diri, namun juga memiliki pengaruh pada kesehatan fisik dan tubuh pasien.

Pada kasus tertentu, perilaku menyakiti diri sendiri dapat membahayakan hidup, seperti menyilet, membakar, memukul, membenturkan kepala, menjambak rambut dan tindakan berbahaya lainnya. Parahnya, orang-orang tersebut tidak melihat perilaku ini sebagai kegiatan yang membahayakan, namun sebagai salah satu cara mengekspresikan rasa sakit dan menghukum diri sendiri.

6. Tanda-Tanda Lainnya

Tidak bisa mengendalikan rasa marah, yang kadang bisa menimbulkan pertengkaran fisik.
Sering merasa hampa atau bosan. Memiliki pikiran paranoid yang terkait stress atau gejala disosiatif yang serius, seperti jiwa terpisah dari badannya.

Penyebab BPD

Penyebab pasti borderline personality disorder belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor di bawah ini diduga dapat memicu terjadinya BPD:

1. Peristiwa Traumatis

Mengalami peristiwa traumatis, seperti pelecehan, kekerasan, atau penelantaran saat kanak-kanak, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami BPD. Selain itu, komunikasi yang buruk dalam keluarga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya BPD.

2. Genetik

borderline personality disorder
Sumber: iStockPhoto

Menurut beberapa penelitian, gangguan kepribadian dapat diturunkan secara genetik. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan kepribadian ambang lebih berisiko mengalami kondisi ini.

3. Kelainan pada Otak

Berdasarkan penelitian, penderita BPD memiliki kelainan pada struktur dan fungsi otak, terutama pada area yang mengatur perilaku dan emosi. Penderita BPD juga diduga memiliki kelainan fungsi zat kimia otak yang berperan dalam mengatur emosi.

Pengobatan BPD

Pengobatan gangguan kepribadian ambang ini bertujuan untuk meredakan gejala dan mengobati gangguan mental lain yang sering kali menyertai BPD, misalnya depresi. Beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan oleh dokter adalah:

Psikoterapi

Ada beberapa jenis psikoterapi yang bisa dilakukan untuk menangani BPD, yaitu:

1. Dialectical Behavior Therapy (DBT)

Jenis terapi ini dilakukan melalui dialog dengan tujuan agar pasien dapat mengendalikan emosi, menerima tekanan, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain. DBT dapat dilakukan secara individual, atau dalam sebuah grup konsultasi.

2. Mentalization-Based Therapy (MBT)

Terapi ini menitikberatkan metode berpikir sebelum bereaksi. MBT membantu pasien BPD menilai perasaan dan pikirannya sendiri serta menciptakan perspektif positif dari situasi yang dihadapi. Terapi ini juga membantu pasien untuk mengerti perasaan orang lain dan konsekuensi perbuatannya terhadap perasaan orang lain. MBT biasanya dilakukan dalam jangka panjang, yaitu sekitar 18 bulan. Terapi diawali dengan rawat inap agar pasien bisa menjalani sesi individu setiap hari dengan psikiater. Setelah jangka waktu tertentu, terapi dapat dilanjutkan dengan rawat jalan.

Baca juga:  Mindfulness: Pengertian dan Manfaatnya bagi Kesehatan Holistik

3. Schema-Focused Therapy

Terapi ini membantu pasien BPD menyadari kebutuhannya yang tidak terpenuhi dan akhirnya memicu pola hidup negatif. Terapi akan berfokus pada usaha pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara yang lebih sehat sehingga terbangun pola hidup yang positif. Sama seperti terapi DBT, schema-focused therapy dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok.

4. Transference-Focused Psychotherapy (TFP)

Terapi psikodinamis membantu pasien memahami emosi dan kesulitan yang dialaminya dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain (interpersonal). TFP dilakukan dengan membina hubungan antara pasien dan terapis. Hasil pembinaan kemudian dapat diterapkan ke dalam situasi yang sedang dialami.

5. Good Psychiatric Management

Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien terhadap emosi yang dialaminya dengan mempertimbangkan perasaan orang lain. Terapi dapat dipadukan dengan pemberian obat, terapi kelompok atau perorangan, dan penyuluhan pada keluarga.

6. STEPPS

STEPPS atau systems training for emotional predictability and problem-solving merupakan terapi kelompok yang dapat dilakukan bersama anggota keluarga, teman, pasangan, atau pengasuh. Terapi ini umumnya berlangsung selama 20 minggu, dan biasanya digunakan sebagai terapi tambahan bersama psikoterapi lainnya.

Obat-Obatan

Penggunaan obat-obatan bukan untuk mengatasi BPD, melainkan untuk mengatasi gejala atau gangguan mental lain yang muncul bersamaan dengan kondisi ini, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Obat-obatan yang dapat diberikan oleh dokter antara lain:

  1. Antidepresan
  2. Antipsikotik
  3. Obat penyeimbang suasana hati

Perawatan di rumah sakit

Pada kondisi yang lebih serius, misalnya muncul rasa tertekan hingga memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri, atau bahkan melakukan percobaan bunuh diri, penderita BPD perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Jenis perawatan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang pasien alami.

Proses pemulihan BPD kemungkinan membutuhkan waktu yang cukup lama. Terapi untuk kondisi ini dapat berlangsung dalam hitungan bulan hingga tahun. Berkonsultasi dengan dokter jiwa yang berpengalaman menangani BPD dapat membantu pasien mengembangkan kepribadiannya ke arah yang lebih baik.

Cara Mengatasi Gangguan Kepribadian Ambang

Borderline personality disorder tidak dapat dicegah sepenuhnya. Kendati demikian, risikonya dapat dikurangi dengan melakukan beberapa upaya berikut ini:

  1. Menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis, khususnya untuk anak
  2. Menanyakan secara rutin kondisi anak atau hal-hal yang baru ia alami tanpa perlu menunggu ia bercerita lebih dulu
  3. Mencari dukungan dari orang lain ketika kondisi keluarga sedang tidak stabil
  4. Bercerita kepada orang terdekat atau psikiater ketika mengalami pelecehan, perundungan, atau kekerasan fisik
  5. Melakukan pemeriksaan sedini mungkin ketika timbul gejala untuk mencegah kondisi bertambah parah

Itulah berbagai informasi yang perlu kamu ketahui tentang gangguan kepribadian ambang (BPD). Gangguan mental ini juga tidak mustahil dialami oleh seseorang yang tidak memiliki satupun faktor risiko seperti yang dijelaskan di atas. Tidak ada cara pasti untuk mencegah perkembangan penyakit ini. Tetapi ada cara untuk menurunkan salah satu risikonya, yakni jika seseorang pernah mengalami stres, tekanan, atau pengalaman menyakitkan di masa kecil, sebaiknya ikuti konseling ke psikolog. Tujuannya, untuk membantu mengelola stres maupun emosi negatif yang berhubungan dengan pengalaman menyakitkan tersebut.