Jangan Cemas! Lakukan Ini untuk Mengatasi Bruntusan pada Bayi

Bruntusan atau ruam adalah suatu kondisi pada kulit manusia, dimana warna kulit memerah dan terkadang muncul benjolan kecil. Hal ini sering terjadi pada bayi, karena kulitnya yang masih sensitif. Bruntusan pada bayi mulai terjadi di usia 1 bulan, dan bisa hilang dengan sendirinya. Meskipun begitu, banyak orang tua yang merasa panik dengan kondisi tersebut.

Jika si kecil mengalami bruntusan, maka kamu perlu mengetahui bagaimana mengatasinya. Namun sebelum itu, kamu perlu tahu apa saja penyebab, jenis, dan cara pencegahannya. Supaya kesehatan kulit si kecil selalu terjaga. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini, ya.

Sumber: iStockPhotos

Penyebab Bruntusan di Bayi

Bruntusan sering terjadi pada bayi berusia 1 bulan hingga 1,5 tahun. Biasanya, bruntusan akan muncul di bagian-bagian lipatan )leher, ketiak, paha, dan lainnya). Penyebabnya bermacam-macam, antara lain:

  1. Keringat tersumbat di bawah kulit. Ini disebabkan karena kelenjar keringat bayi masih beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim dan ukurannya masih sangat kecil. Penyumbatan ini juga bisa disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermis yang ada di dalam kulit bayi.
  2. Hormon dari ibu. Bayi yang baru lahir biasanya masih membawa hormon-hormon dari ibu semasa dalam kandungan. Hormon-hormon ini masih berada di tubuh bayi hingga beberapa minggu, sehingga bruntusan dapat muncul di tubuh hingga wajah bayi.

Jenis-Jenis Bruntusan Bayi

Jerawat Bayi

Sumber: iStockPhoto

Jerawat bayi memiliki gejala timbulnya ruam atau bercak merah pada bayi. Kondisi ini biasanya muncul beberapa hari atau beberapa minggu setelah kelahiran. Dan akan hilang dalam waktu beberapa hari hingga bulan. Jerawat bayi ini tidak sama dengan eksim, lho. Jika jerawat bayi biasa muncul di tempat tertutup, eksim dapat muncul di area terbuka seperti pipi dan punggung tangan.

Baca juga:  8 Tips Perawatan Luka Diabetes dan Cara Mencegahnya

Milia

Milia atau miliaria adalah jenis bruntusan dimana ada bintik putih pada beberapa bagian kulit bayi. Hal ini dikarenakan protein kulit atau keratin terjebak di bawah kulit bayi. Menurut tingkat keparahannya, miliaria ini terbagi atas 4 jenis, yakni sebagai berikut.

Miliaria crystallina

Bruntusan jenis ini ditandai dengan benjolan bening berisi cairan yang mudah pecah, namun tidak terjadi radang. Kondisi ini terjadi ketika pori-pori atas kulit bayi terseumbat oleh keringat.

Miliaria rubra

Pada jenis ini, akan muncul ruam-ruam merah pada kulit bayi dan mengakibatkan gatal serta iritasi kulit. Hal ini dapat membuat bayi sangat tidak nyaman, karena secara spontan mereka akan menggaruki bagian tubuh yang gatal. Miliaria rubra ini juga disebabkan oleh keringat yang terjebak di epidermis dan dermis kulit.

Miliaria pustulosa

Jenis miliaria selanjutnya adalah miliaria pustulosa, dimana kondisinya mirip dengan miliaria rubra namun dengan tingkat keparahan yang cukup tinggi. Jika bagian tubuh yang terkena bruntusan jenis ini digaruk, maka akan keluar darah atau nanah.

Miliaria profunda

Miliaria profunda adalah jenis bruntusan di kulit bayi yang paling parah. Namun tenang saja, ini jarang terjadi. Kondisi ini akan menyebabkan sensasi seperti kulit terbakar. Bayi juga mungkin akan merasa lelah karena menahan gatal dari penyakit ini, dan memungkinkan terjadinya infeksi kulit.

7 Cara Mengobati Bruntusan Bayi

herpes pada bayi
Sumber: Freepik

Melihat bayi terkena bruntusan pasti cemas, ya. Namun selama penyakitnya dapat diobati, maka kamu tak perlu khawatir. Adapun cara mengobati bruntusan yang muncul di kulit bayi adalah sebagai berikut.

  1. Perhatikan kondisi kulit bayi. Pastikan bayi tidak banyak berkeringat dan tetap lembab. Oleskan krim atau lotion khusus bayi yang memberikan efek lembut dan melembabkan kulit bayi.
  2. Kompres dingin. Kamu bisa melakukannya dengan meletakkan es batu ke dalam kain kasa atau kain lembut lainnya. Namun, lakukan pelan-pelan, ya. Karena bayi pasti akan merasa kaget karena merasakan sentuhan dari kompres tersebut.
  3. Mandi air hangat. Mandikan bayi dengan cara menyiram atau menyeka dengan washlap, dan tidak perlu diberikan sabun. Kemudian, bagian tubuh yang mengalami brunusan tidak perlu dihanduki. Cukup dikeringkan secara alami.
  4. Mengatur suhu ruangan. Pastikan suhu ruangan cukup rendah, ya. Kamu juga bisa memasang humidifier atau purifier agar ruangan terjaga kelembabannya.
  5. Memilih jenis sabun. Beberapa sabun bayi mungkin tidak cocok, karena sebagian besar jenis kulit bayi sensitif. PIlihlah sabun bayi yang bebas paraben dan SLS untuk menjaga kulit tetap sehat.
  6. Banyak minum. Hal ini dilakukan agar bayi tidak dehidrasi dan lemas karena menahan gatal dari bruntusan tadi.
  7. Hindari memecah bruntusan bayi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan infeksi pada kulit bayi.
Baca juga:  Kenali Penyebab Sindrom Mata Kering dan Cara Mengobatinya

Mencegah Bruntusan pada Bayi

Sumber: iStockPhoto

Apakah bruntusan bayi dapat dicegah? Jawabannya, bisa. Lakukan hal-hal berikut agar menghindarkan bayi dari bruntusan di kulitnya.

  1. Mengenakan pakaian sesuai cuaca. Jangan mengenakan baju lengan panjang di saat musim panas, karena akaun memicu keringat tidak bisa keluar dengan bebas. Bahan baju pun harus diperhatikan, oleh karenanya banyak yang merekomendasikan katun sebagai jenis bahan pakaian yang paling nyaman.
  2. Jangan mengoleskan krim tanpa resep dokter. Hal ini dikhawatirkan akan membuat bruntusan bayi semakin parah.
  3. Hindari bayi terpapar langsung dengan matahari, bahkan untuk newborn sekalipun. Karena kulit bayi sangat sensitif dan masih beradaptasi dengan lingkungan barunya.
  4. Mengganti popok secara berkala. Gantilah popok jika terlihat sudah penuh atau maksimal 3 jam setelah dipakai.

Setelah membaca penjelasan cara mengatasi bruntusan di kulit bayi, pastinya kamu sudah tidak cemas lagi, ya. Biasanya, bruntusan yang disebabkan oleh cuaca panas akan hilang dengan sendirinya. Namun kamu bisa memantau apakah kondisi ini mengganggu bayi atau tidak. Pada sebagian kondisi, bruntusan di kulit bayi dapat disebabkan oleh alergi makanan yang kamu konsumsi, hingga infeksi virus. Kamu bisa membawa si kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.