Awas! Efek Samping Paracetamol Ini Bisa Berbahaya

Paracetamol adalah obat golongan analgesik atau pereda nyeri yang bermanfaat untuk meredakan rasa nyeri ringan hingga sedang, baik akibat sakit kepala, sakit gigi, menstruasi, sakit punggung, hingga terkilir. Selain meredakan nyeri, paracetamol juga dapat menurunkan demam. Obat ini bisa digunakan oleh semua orang, termasuk ibu hamil dan menyusui. Hanya saja penggunaan paracetamol untuk anak-anak sebaiknya tidak sembarangan dan harus memperhatikan usia anak. Sebagaimana obat jenis lain, efek samping paracetamol juga bisa berbahaya jika dikonsumsi tidak sesuai aturan dokter.

Ingin tahu bagaimana cara mengkonsumsi paracetamol dengan aman? Yuk, baca artikelnya di bawah ini.

Jenis-Jenis Paracetamol

efek samping paracetamol
Sumber: Pixabay

Paracetamol dapat dibeli di apotek. Namun, beberapa paracetamol kombnasi memerlukan resep dokter. Paracetamol biasanya berbentuk:

  • Kapsul
  • Tablet larut (tablet yang dapat dilarutkan dalam air untuk diminum)
  • Suntikan pada pembuluh darah, hanya dilakukan di rumah sakit
  • Tablet atau kaplet
  • Cair, umumnya untuk anak-anak
  • Supositoria (kapsul yang dimasukkan melalui jalur belakang atau anus)

Pada beberapa produk, seperti obat pilek dan flu atau kombinasi pereda nyeri, paracetamol dapat dikombinasikan dengan berbagai bahan lain, dan dapat dijual dengan nama paracetamol atau nama jual yang terkadang mengandung bahan lain seperti caffein dan vitamin C. 

Baca Juga: Mendengkur Saat Tidur? Waspada, Mungkin Gejala Sleep Apnea

Efek Samping Paracetamol Golongan Ringan

efek samping paracetamol
Sumber: iStockPhoto

Terdapat beberapa efek samping ringan yang bisa terjadi, tetapi pada dasarnya efek samping ringan ini masih bisa dikendalikan.

Berikut ini efek samping paracetamol yang tergolong ringan.

  • Demam dengan atau tanpa menggigil tiba-tiba.
  • Memar.
  • Gatal-gatal.
  • Mual.
  • Sakit perut.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Urine berwarna gelap.
  • Sakit perut bagian atas.
  • Penurunan jumlah urine.
  • Sakit tenggorokan.
  • Kelelahan.
Baca juga:  Kenali 9 Tanda Tubuh Butuh Detox, Begini Cara Mudah Melakukannya!

Meskipun efek samping paracetamol di atas terbilang ringan, kamu tetap tidak boleh menyepelekannya. Hubungi dokter segera jika efek samping masih terasa hinggga beberapa hari ke depan, sebab ini artinya kamu memerlukan perhatian medis.

Baca Juga: Kepala Serasa Berputar? Awas, Kenali Ciri-Ciri Vertigo

Efek Samping Paracetamol Golongan Berat

efek samping paracetamol
Sumber: Pixabay

Jika efek samping paracetamol sebelumnya masih dapat kamu atasi ataupun dikendalikan, tidak dengan efek samping berat seperti berikut ini. Kamu benar-benar harus mendapatkan perhatian medis segera agar efek samping berikut tidak bertambah parah.

  • Reaksi alergi. Reaksi ini bisa menimbulkan kulit ruam atau pembengkakan. Satu dari seratus orang bisa mengalami efek samping ini.
  • Tekanan darah rendah dan detak jantung cepat. Umumnya ini terjadi pada pasien yang mendapatkan paracetamol melalui suntikan di rumah sakit.
  • Gangguan darah seperti trombositopenia (jumlah trombosit yang rendah) dan leukopenia (jumlah sel darah putih yang rendah). Efek ini termasuk jarang terjadi. Hanya satu dari 1.000 orang berisiko mengalami kondisi ini.
  • Gangguan pada hati dan ginjal. Kerusakan hati dan ginjal bisa terjadi jika Anda terlalu banyak mengonsumsi paracetamol. Ini merupakan efek samping yang paling parah.
  • Overdosis parasetamol yang ditandai dengan mual, muntah, tidak enak badan, dan sakit perut.

Sebenarnya, paracetamol aman jika digunakan sesuai petunjuk dosis. Namun, karena demam tidak turun ataupun nyeri tidak kunjung hilang, beberapa orang mungkin memutuskan untuk menggandakan dosisnya agar panas atau nyerinya hilang.

Cara Menggunakan Paracetamol (Acetaminophen) dengan Benar

  • Paracetamol infus atau suntik akan diberikan langsung oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Jika Anda diberikan paracetamol oral maupun rektal, ikuti dosis dan anjuran yang diberikan oleh dokter, atau baca informasi yang tertera pada kemasan obat sebelum menggunakannya.
  • Paracetamol dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Untuk paracetamol sirop atau tetes, kocok botol terlebih dahulu sebelum obat digunakan. Gunakan sendok takar atau pipet yang tersedia di dalam kemasan obat. Jangan gunakan sendok biasa, karena bisa membuat dosis yang didapatkan jadi tidak tepat.
  • Paracetamol suppositoria atau enema digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam dubur. Masukkan obat dalam posisi berbaring menyamping dengan obat bagian ujung yang lancip masuk terlebih dahulu ke dalam dubur.
  • Setelah obat masuk, duduk atau berbaring terlebih dahulu selama 10–15 menit agar obat meresap dengan sempurna. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan sesudah memasukkan paracetamol suppositoria.
  • Paracetamol hanya digunakan ketika ada keluhan. Anda dapat menghentikan konsumsi obat ini jika keluhan sudah tidak lagi mengganggu. Namun, hentikan penggunaan paracetamol dan konsultasikan ke dokter jika demam tidak kunjung reda setelah 3 hari atau jika nyeri tidak membaik setelah 10 hari menggunakan obat ini.
Baca juga:  Penyebab Konstipasi: Kapan Harus ke Dokter?

Simpan paracetamol di tempat yang kering dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak. Paracetamol suppositoria perlu disimpan di dalam kulkas.

Setelah membaca artikel di atas, pastinya sekarang kamu tahu, bahwa meskipun paracetamol tergolong obat-obatan yang relatif aman,  namun jangan mengonsumsi obat-obatan ini tanpa resep dari dokter. Kamu juga perlu berkonsultasi dengan ahli seperti apoteker atau dokter jika mengalami efek samping, yang mungkin disebabkan karena konsumsi parasetamol. Jangan minum parasetamol bersamaan dengan obat lain yang juga mengandung parasetamol. Jika kamu mengonsumsi dua obat berbeda yang mengandung parasetamol, kamu akan berisiko mengalami overdosis. Jadi hati-hati ya!