Fort Rotterdam, Situs Sejarah dan Budaya Tersohor di Makassar

Bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang berlibur ke Makassar, jangan lewatkan untuk berkunjung ke Fort Rotterdam. Lokasi wisata ini hanya berjarak sekitar 1 km dari Pantai Losari, atau jika ditempuh dari Bandara Sultan Hasanuddin sekitar 30 menit mengendarai mobil maupun motor. Sementara dari Pelabuhan Sukarno Hatta ditempuh hanya sekitar 15 menit.

Untuk mengunjungi Benteng Fort Rotterdam yang megah ini, pengunjung tidak ditarik biaya tiket masuk. Namun, pengunjung dapat mendonasikan secara suka rela guna menjaga terawatnya dan kelestarian Fort Rotterdam tersebut. Namun, biaya tiket masuk dikenakan untuk memasuki Museum La Galigo yang berada di dalam benteng yakni sebesar Rp7.500,00 untuk setiap orangnya. 

Dengan biaya yang terjangkau, pengunjung dapat menikmati kemegahan Benteng Fort Rotterdam serta edukasi kilas sejarah Makassar di Museum Lagaligo. Perlu diketahui Fort Rotterdam dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00, namun Museum Logaligo hanya dibuka pada hari Selasa hingga hari Minggu pukul 08.00 hingga 12.30.

Sejarah Fort Roterdam

Bangunan yang juga disebut Benteng Jumpandang itu dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa ’risi’ Kallonna. Semula, Kerajaan Gowa-Tallo memiliki 17 buah benteng, tetapi Benteng Jumpandang yang paling megah.

fort rotterdam
Sumber: www.triptrus.com

Orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua (Penyu) yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Sebutan panyyua atau penyu mengacu pada bentuk keseluruhan Benteng Fort Rotterdam yang jika dilihat dari udara, tampak menyerupai seekor penyu yang akan masuk ke pantai. 

Benteng Jumpandang berganti nama menjadi Benteng Fort Rotterdam setelah Kerajaan Gowa kalah perang dengan kongsi dagang Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Cornelis Speelman memilih nama Fort Rotterdam sebagai nama benteng guna mengenang kota kelahirannya di Belanda.

Baca juga:  12 Destinasi Wisata Kepulauan Seribu, Cocok untuk Healing!

Dalam catatan sejarah, benteng ini pernah hancur akibat penyerbuan Belanda ke Kerajaan Gowa. Sebab, mereka ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah. Usai satu tahun digempur secara terus menerus oleh Belanda, Kerajaan Gowa-Tallo kalah. Pada 18 November 1667, mereka meneken Perjanjian Bongaya, di mana salah satu poinnya berisi penyerahan benteng ini kepada pasukan Belanda.

Akibat perang tersebut, bangunan benteng banyak yang hancur di berbagai sisi. Benteng yang memiliki desain arsitektur gaya Portugis ini kemudian direnovasi oleh Speelman dengan tambahan desain arsitektur gaya Belanda dan dijadikan sebagai pusat militer Belanda.

Pada tahun 1937 Benteng Rotterdam diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Yayasan Fort Rotterdam. Setahun berikutnya, yaitu tahun 1938, bekas kediaman Cornelis Speelman dijadikan Celebes Museum yang ditutup pada masa pendudukan Jepang. Pada tanggal 23 Mei 1940 bangunan ini didaftar sebagai monumen bersejarah dengan Nomor Registrasi 1010 sesuai Monumenten Staatsblad Tahun 1931. 

Ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945), Benteng Rotterdam digunakan sebagai pusat penelitian ilmu pertanian dan bahasa. Pada tahun 1945-1949, Benteng Rotterdam kemudian beralih fungsi menjadi pusat kegiatan pertahanan Belanda dalam menghadapi pejuang-pejuang Republik Indonesia. Pada tahun 1950 benteng ini sempat menjadi tempat tinggal anggota TNI dan warga sipil sebelum akhirnya jatuh kembali ke tangan Belanda pada tahun yang sama dalam rangka pembentukan Negara Indonesia Timur. 

fort rotterdam
Sumber: makassar.singgasanahotels.com

Benteng Rotterdam kemudian dijadikan Pusat Pertahanan Tentara Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) untuk menghadapi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada tahun 1970, Benteng Rotterdam dipugar oleh pemerintah dan difungsikan sebagai perkantoran. Salah satu gedung di dalam kompleks difungsikan sebagai Museum Provinsi Sulawesi Selatan yang bernama Museum La Galigo. Pada tanggal 27 April 1977, kantor Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Wilayah IV juga ditempatkan di benteng ini. 

Baca juga:  15 Makanan Khas Makassar Menggugah Selera, Wajib Coba!

Saat ini Benteng Rotterdam dalam keadaan baik serta terawat dan ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya pada tanggal 22 Juni 2010 berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.59/PW.007/MKP/2010.

Kondisi Fort Rotterdam saat ini

Pintu masuk Fort Rotterdam adalah sebuah benteng setinggi sekitar 3 meter, pengunjung diperkenankan mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam benteng. Memasuki bagian dalam Fort Rotterdam, pengunjung disambut sebuah taman hijau nan asri yang berada di tengah-tengah benteng. 

Taman itu dikelilingi oleh bangunan tua bertingkat dua, sementara tembok setinggi sekitar 3 meter tampak mengelilingi kawasan Fort Rotterdam ini. Selain itu, kamu juga bisa menjumpai Museum La Galigo yang berlokasi di dalam benteng.

Di dalam museum yang relatif hening suasananya, terdapat koleksi benda-benda bersejarah dari mulai zaman prasejarah yang menampilkan fosil bebatuan dan senjata-senjata kuno masyarakat Sulawasi Selatan, hingga perkembangan budaya di masa modern. 

Benda-benda bersejarah itu ditampilkan dalam kotak kaca besar maupun etalase-etalase, antara lain adalah kapak, mata panah, perhiasan, patung dan masih banyak lagi. 

Selain benda-benda kuno, Museum La Galigo juga menampilkan sejarah hidup masyarakat Sulawesi Selatan yang ditampilkan dengan model rumah adat. Museum ini juga menampilkan kehidupan mata pencaharian masyarakat setempat yang mayoritas adalah pelaut. Sebuah miniatur kapal Phinisi terpajang di salah satu sudut museum menggambarkan bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan sejak dulu memang seorang pelaut ulung.

Secara umum bangunan-bangunan di dalam kawasan Benteng Fort Rotterdam berada dalam kondisi utuh dan terawat. Bahkan di tengah-tengah benteng, tepatnya sekitar taman terdapat sebuah bangunan yang di depannya biasa dibangun sebagai panggung untuk pagelaran seni.