perubahan perut ibu hamil dari bulan ke bulan
Sumber: Freepik

9 Fungsi Plasenta bagi Janin dan Ibu Hamil, Apa Saja?

Plasenta adalah organ penting yang berkembang di rahim pada masa kehamilan. Fungsi plasenta sangat penting dalam perkembangan janin dalam kandungan. Organ ini mulai terbentuk sejak awal kehamilan, sekitar dua minggu setelah terjadi pembuahan. Dengan bentuknya yang beragam, plasenta biasanya menempel di berbagai tempat di rahim. Namun pada beberapa kondisi, plasenta bisa menempel di dekat leher rahim. Istilah medis yang menggambarkan kondisi ini adalah placenta previa.

Plasenta, atau yang biasa disebut dengan ari-ari ini ada untuk menemani janin dalam kandungan bukan tanpa alasan, lho. Ada beberapa fungsi yang terdapat pada organ yang mengelilingi janin dalam kandungan ini. Kira-kira apa saja sih, fungsi dari ari-ari ini? Yuk, kita simak sembilan fungsi plasenta bagi ibu hamil dan janin.

Sumber: freepik

9 Fungsi Plasenta bagi Bumil dan Janin

Setelah mengetahui apa itu plasenta, kamu pasti akan bertanya-tanya, apa saja fungsi dari plasenta bagi janin dan ibu hamil? Ini dia penjelasannya.

1. Menyalurkan Oksigen untuk Janin

Oksigen sangat dibutuhkan oleh janin untuk bertahan hidup dan berkembang selama masa kehamilan di dalam rahim. Untuk mendapatkan asupan tersebut, tubuhmu akan mengalirkan oksigen ke dalam plasenta melalui tali pusar. Dalam suatu penelitian, disebutkan bahwa oksigen adalah molekul kecil yang mudah melintasi plasenta dengan difusi pasif.

Selain itu, transfer oksigen dari ibu hamil ke janin juga dapat dipengaruhi hemoglobin janin. Perlu kamu ketahui bahwa paru-paru janin tidak bisa melakukan pertukaran gas selama dalam kandungan, sehingga plasenta yang bertanggung jawab atas transfer oksigen dan karbon dioksida untuk perkembangan janin.

2. Menyalurkan Nutrien untuk Janin

sayuran yang dilarang untuk ibu hamil
Sumber: Freepik

Plasenta menyalurkan nutrisi bagi proses pertumbuhan janin sejak minggu pertama kehamilan hingga saat persalinan. Organ ini menyuplai nutrisi ke janin yang dibawa melalui aliran darah lalu disalurkan oleh tali pusar ke janin. Transfer nutrisi biasanya terjadi mulai usia kehamilan 2 bulan.

Baca juga:  Jangan Sangah Sangka, Ini 5 Perbedaan Telat Haid dengan Hamil

Dalam prosesnya, makanan yang kamu konsumsi akan disaring terlebih dahulu dan masuk ke aliran darah, kemudian menuju pembuluh darah janin melalui plasenta dan tali pusar. Oleh karena itu, pastikan makanan dan minuman yang kamu konsumsi memiliki kandungan gizi dan nutrisi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang janin dalam kandungan.

3. Membuang Sisa Metabolisme Janin

Plasenta juga berfungsi untuk membuang zat-zat sisa seperti karbon monoksida dan urin dari tubuh janin. Zat-zat sisa ini kemudian akan diteruskan ke alirah darah tubuh ibu hamil untuk kemudian dibuang oleh sistem pembuangan dalam tubuh ibu hamil.

4. Memproduksi hCG

Fungsi plasenta yang tidak kalah penting yaitu dapat memproduksi hormon pendukung kehamilan, salah satunya human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon inilah yang bertanggung jawab untuk mengehntikan siklus menstruasi dengan mempertahankan Corpus luteum di indung telur atau ovarium. hCG memiliki efek anti-bodi, melindungi janin dari reaksi penolakan tubuh ibu hamil. hCG juga membantu janin laki-laki dengan merangsang testis untuk memproduksi testosteron.

5. Memproduksi Progesteron dan Estrogen

Hormon kehamilan selanjutnya yang diproduksi oleh plasenta adalah progesteron dan estrogen. Progesteron akan membantu embrio atau sel telur yang dibuahi untuk menempel dan tertanam dalam rahim. Hormon ini juga akan mempengaruhi saluran tuba dan rahim dengan merangsang peningkatan sekresi yang diperlukan untuk menutrisi janin. Fungsi progesteron seperti hCG diperlukan untuk mencegah aborstus spontan atau keguguran guna mencegah kontraksi rahim.

Estrogen merupakan hormon penting dalam proses proliferasi sel-sel tertentu, yaitu merangsang pembesaran payudara dan rahim. Hal ini memungkinkan pertumbuhan janin dan produksi air susu ibu. Hormon ini juga bertanggung jawab untuk meningkatkan suplai darah menjelang akhir kehamilan melalui aktivitas vasodilatasi. Kadar estrogen selama kehamilan ini dapat meningkat hingga tiga puluh kali lipat saat tidak hamil.

6. Menghasilkan Laktogen

Selain ketiga hormon kehamilan yang telah disebutkan sebelumnya, plasenta juga menghasilkan hormon laktogen, dimana hormon ini identik dengan struktur hormon pertumbuhan yang ada pada setiap wanita, namun pada wanita hamil laktogen bisa mencapai seribu kali konsentrasi normal. Tugas hormon ini untuk menghambat insulin ibu hamil, yang bertujuan agar glukosa darah tidak banyak yang masuk ke sel tubuh ibu, sehingga meningkatkan kadar glukosa darah untuk membuat lebih banyak yang tersedia bagi janin.

Baca juga:  Hamil tapi Haid, Kenapa Ya? Ini Penjelasannya!

7. Melindungi Janin dari Infeksi

Sumber: freepik

Plasenta melindungi janin terhadap bakteri dan kuman yang ada di dalam tubuhmu sehingga tetap dalam keadaan sehat. Selain itu, plasenta juga menjadi penghalang agar sel-sel janin tidak masuk ke dalam aliran darah ibu sehingga janin tidak dianggap sebagai sel asing oleh tubuh ibu.

8. Memberikan Antibodi dari Ibu ke Janin

Pada akhir kehamilan, plasenta akan menyalurkan antibodi yang kamu miliki ke janin. Antibodi ini dapat memberikan kekebalan tubuh untuk bayi agar terhindar dari penyakit. Namun setelah bayi dilahirkan, antibodi dari tubuhmu hanya bisa bertahan hingga usianya mencapai 3 bulan. Jadi, penting bagi bayi untuk tetap mendapatkan imunisasi agar terhindari dari infeksi virus maupun bakteri.

9. Menyaring Zat Berbahaya

Fungsi plasenta bagi janin yang terakhir adalah bertindak seperti ginjal, yaitu menyaring darah untuk menghilangkan zat-zat berbahaya dan zat sisa yang tidak diperlukan. Misalnya saja seperti karbondioksida, yang kemudian diteruskan ke aliran darah dalam tubuhmu untuk kemudian dibuang oleh sistem dalam tubuh.

Fungsi plasenta bagi janin dan ibu hamil sangat penting untuk kelancaran kehamilan. Oleh karena itu, penting untuk selalu melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan secara berkala untuk mengurangi risiko terkena gangguan pada plasenta. Ada beberapa faktor risiko yang dapat memperbesar kemungkinan ibu hamil terkana gangguan plasenta, antara lain:

  • Wanita hamil yang berusia di atas 40 tahun
  • Tekanan darah tinggi
  • Ketuban pecah lebih cepat sebelum waktunya
  • Mengandung bayi kembar
  • Konsumsi narkoba atau minuman beralkohol
  • Adanya gangguan plasenta pada kehamilan sebelumnya
  • Pernah mengalami operasi sesar atau kuret

Mia Atika

Add comment

Share