Bayi Mengalami Hipospadia, Tangani dengan Cara yang Tepat!

Pada saat lahir ke dunia, sebagian bayi dapat mengalami kecacatan, di mana salah satu bentuknya adalah hipospadia. Istilah hipospadia mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang. Kondisi ini dapat membuat penis bayi laki-laki menjadi abnormal, kira-kira apa penyebabnya, ya?

Apa itu hipospadia pada bayi? Hipospadia adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pada lubang, kulup, serta bentuk penis. Hipospadia adalah salah satu bentuk kelainan bawaan lahir (kongenital), di mana lubang pembuangan uretra atau saluran kemih berada di bagian bawah penis. Jika dalam kondisi normal, lubang ini seharusnya berada di ujung penis.

Kondisi ini adalah cacat lahir yang dapat terjadi pada sebagian bayi. Sebagian besar kasus hipospadia terbilang ringan karena lubang kencing hanya bergeser sedikit saja, atau berada sedikit jauh dari ujung penis. Namun, pada sebagian kecil kasus, penyakit ini juga bisa parah hingga menyebabkan lubang kencing sangat jauh dari ujung penis, lho. Jadi, sebaiknya jangan disepelekan!

Terkadang, hipospadia juga terjadi bersama dengan masalah bayi baru lahir lainnya, seperti hernia inguinalis, hingga testis yang tidak turun. Bayi dengan hipospadia biasanya akan didiagnosis segera setelah kelahiran. Namun, pergeseran lubang kencing yang sangat sedikit bisa membuatnya lebih sulit untuk diidentifikasi.

Apa Penyebab Hipospadia?

hipospadia adalah
Sumber: Freepik

Penyebab terjadinya hipospadia pada bayi adalah karena terganggunya perkembangan uretra dan kulup penis saat bayi di dalam kandungan. Namun, sama seperti kelainan bawaan lahir pada umumnya, penyebab utama dari perkembangan abnormal pada penis ini belum diketahui secara pasti. Hanya saja, ada sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko hipospadia pada bayi ini, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Wanita yang hamil pada saat berusia di atas 35 tahun.
  • Menderita obesitas dan diabetes saat hamil.
  • Menjalani terapi hormon untuk merangsang kehamilan.
  • Wanita hamil terpapar asap rokok atau pestisida .
Baca juga:  Penuh Risiko, Begini Cara Perawatan Bayi Prematur

Selain itu, faktor genetik atau adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami kelainan ini juga diduga kuat sebagai salah satu faktor pemicu munculnya kelainan ini. 

Kenali Gejala Hipospadia pada Bayi

Ternyata, gejala hipospadia pada bayi yang dialami oleh setiap penderita bisa berbeda satu dengan lainnya. Pada beberapa kasus hipospadia pada bayi, tanda kelainan ini terlihat dari lubang kencing (uretra) yang terletak di bagian bawah kepala penis. Sedangkan pada sebagian lainnya lubang kencing (uretra) terletak di bagian bawah batang penis. Bahkan, ada juga penderita hipospadia yang memiliki letak lubang kencing (uretra) yang berada di area skrotum (buah zakar), tetapi kondisi ini cukup jarang terjadi. 

Akibat letak lubang kencing (uretra) yang abnormal tersebut, maka penderita hipospadia akan mengalami beberapa gejala, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Pada saat buang air kecil, percikan urinenya akan tampak tidak normal.
  • Kulup hanya menutupi bagian atas kepala penisnya saja. Kulup adalah kulit yang membungkus bagian kepala penis yang belum disunat.
  • Bentuk penis cenderung tampak melengkung ke bawah.

Seperti Apa Penanganan Hipospadia Pada Bayi?

hipospadia adalah
Sumber: Freepik

Kelainan hipospadia biasanya dapat didiagnosis segera setelah bayi dilahirkan. Biasanya diagnosis ini akan dilakukan dengan pemeriksaan fisik pada penis bayi, tanpa membutuhkan tes-tes tambahan lainnya. Namun, hipospadia pada bayi yang parah membutuhkan pemeriksaan yang lebih detail untuk memastikan adanya kelainan lain yang terjadi pada alat kelamin bayi. 

Baca juga:  10+ Cara Tradisional dan Ampuh Mengatasi Hidung Tersumbat pada Bayi

Jika bayi yang mengalami hipospadia memiliki uretra yang posisinya sangat dekat dari posisi normal dan bentuk penisnya tidak melengkung, maka kemungkinan besar tidak ada penanganan khusus yang diperlukan. Namun, jika letak uretra lebih jauh dari posisi normal, maka diperlukan penanganan dengan cara operasi. 

Tujuan dilakukannya operasi tersebut adalah untuk menempatkan kembali lubang kencing uretra ke posisi yang semestinya, serta berguna untuk memperbaiki bentuk penis supaya tidak melengkung. Mengenai berapa kali operasi yang perlu dilakukan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter karena operasi ini tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi kesehatan masing-masing penderita. 

Lakukan Upaya Pencegahan!

Meskipun penyebab utama hipospadia pada bayi belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan selama hamil untuk mengurangi risiko munculnya kelainan ini. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah hipospadia pada bayi: 

  • Wanita hamil dianjurkan untuk menghindari merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Hindari pekerjaan yang terpapar pestisida.
  • Penuhi asupan asam folat dari makanan atau suplemen sesuai anjuran dari dokter kandungan.
  • Konsumsi makanan yang bernutrisi dan menjalani pola hidup sehat.
  • Pertahankan berat badan ideal sesuai IMT atau BMI, dan jangan sampai kelebihan atau kekurangan berat badan.
  • Wanita hamil wajib memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan secara rutin.

Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan dan diduga memiliki faktor risiko terjadinya hipospadia pada bayi, baik karena faktor genetik dan lainnya, sangat dianjurkan untuk melakukan konsultasi perencanaan kehamilan ke dokter kandungan. Tujuannya adalah supaya dapat mengendalikan faktor risiko kelainan hipospadia pada bayi ini dengan sebaik mungkin.