7 Penyebab Kentut Terus yang Bisa Jadi Penyakit Serius

Kentut atau buang angin adalah hal yang biasa dialami semua orang. Namun, jika mengalami kentut terus menerus, kamu patut mewaspadai adanya gangguan pada kesehatanmu. Perlu diketahui, kentut berasal dari gas dalam saluran pencernaan yang dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Kondisi ini terjadi ketika jumlah gas dalam saluran cerna terlalu banyak.

Tak jarang kentut mengeluarkan bau dan suara yang khas. Hal ini dikarenakan adanya hasil metabolisme dari usus besar. Namun, apakah sering mengalami kentut berbahaya untuk kesehatan? Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

kentut terus
Sumber: iStockPhoto

7 Penyebab Kentut Terus

Kentut terjadi ketika gas di dalam saluran pencernaan terlalu banyak dan menumpuk. Kemudian tubuh mengeluarkannya dengan cara membuang angin lewat anus atau sendawa lewat kerongkongan. Berapa kali kentut dalam sehari yang terbilang normal? Umumnya seseorang dapat kentut hingga 13–20 kali setiap harinya. Jika lebih dari angka tersebut, bisa diwaspadai adanya masalah kesehatan. Adapun beberapa penyebab umum sering kentut adalah sebagai berikut.

1. Konsumsi Makanan Tertentu

Salah satu penyebab kentut terus adalah pengaruh dari makanan tertentu. Terutama makanan pemicu gas berlebih dalam tubuh. Adapun sejumlah makanan yang berpotensi menjadi penyebab kentut terus-menerus adalah:

  1. Susu dan produk olahannya.
  2. Kacang-kacangan.
  3. Biji-bijian utuh, seperti oat dan gandum.
  4. Pemanis buatan.
  5. Buah-buahan, seperti apel dan pir.
  6. Minuman berkarbonasi.
  7. Sayuran pemicu asam lambung, seperti kol dan brokoli.

Selain mengonsumsi beberapa makanan di atas, kentut terus-menerus juga bisa terjadi apabila makanan yang dikonsumsi telah terkontaminasi bakteri yang dapat merusak saluran pencernaan, seperti bakteri E. coli. Pasalnya, bakteri ini melakukan fermentasi gula yang menghasilkan gas.

Baca juga:  Tepung Mocaf dan Tapioka: Serupa Tapi Tak Sama

2. Terlalu Banyak Menelan Udara

Penyebab sering kentut berikutnya adalah menelan udara terlalu banyak atau aerophagia. Kondisi ini bisa terjadi tanpa disadari ketika seseorang melakukan beberapa aktivitas sehari-hari, seperti:

  1. Menggunakan gigi palsu terlalu longgar.
  2. Mengonsumsi makanan dan minuman terlalu cepat.
  3. Mengunyah permen karet atau mengisap permen.
  4. Sering merokok.
  5. Mengonsumsi minuman berkarbonasi.
  6. Cemas.

3. Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa adalah kondisi ketika tubuh tidak bisa mencerna laktosa, yaitu gula yang berada di dalam susu sapi. Pada kondisi ini, masuknya laktosa ke dalam saluran pencernaan akan menyebabkan produksi gas meningkat, diare, hingga kentut terus-menerus. Pada dasarnya, intoleransi laktosa bukanlah kondisi yang berbahaya. Namun gejalanya terkadang cukup mengganggu. Adapun cara mengatasi intoleransi laktosa adalah dengan membatasi konsumsi susu sapi dan produk olahannya. Sebagai gantinya, pilihlah susu alternatif bebas laktosa seperti susu berbahan dasar kedelai.

4. Sembelit

Sembelit atau konstipasi menjadi salah satu penyebab sering kentut yang paling umum terjadi. Hal ini terjadi karena kondisi ketika feses terjebak dalam usus besar, sehingga tidak dapat dikeluarkan. Kemudian, ini akan memicu timbulnya gas berlebih akibat proses fermentasi feses. Jumlah gas berlebih yang menumpuk dari waktu ke waktu akan membuat seseorang kentut terus. Jika gas tersebut ditahan atau terjebak dalam usus, kondisi ini dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk kentut sekaligus buang air besar.

5. Sindrom Iritasi

kentut terus
Sumber: iStockPhoto

Penyebab sering kentut berikutnya adalah sindrom iritasi usus, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan sejumlah gejala gangguan pencernaan, seperti diare dan perut kembung. Sindrom iritasi usus dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari faktor genetik hingga gangguan gerak usus.

Baca juga:  Tak Ingin Mabuk dalam Perjalanan? Cegah dengan 6 Cara Ini!

Hingga kini belum ditemukan obat khusus yang dapat menyembuhkan sindrom iritasi usus. Namun penderita dapat melakukan beberapa upaya untuk mencegah kekambuhannya, seperti menghindari makanan pemicunya, menyesuaikan pola makan, dan menerapkan anjuran dokter lainnya.

6. Refluks Asam Lambung (GERD)

GERD merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan. Kondisi ini kerap membuat penderitanya lebih sering bersendawa dan menelan, aktivitas itulah yang dapat menyebabkan tubuh tanpa sadar menelan udara berlebihan. Gas tersebut akan bermuara di saluran pencernaan dan lama-kelamaan menumpuk, sehingga menjadi penyebab kentut terus-menerus.

7. Penyakit Celiac

Penyakit celiac adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mencerna protein dalam gandum (gluten). Pada kondisi ini, gluten yang masuk ke dalam tubuh akan diserang oleh sistem imun, sehingga memicu terjadinya peradangan pada usus. Peradangan tersebut berpotensi merusak usus dan menyebabkan gangguan penyerapan gizi (malabsorpsi). Selain menyebabkan sering kentut, penyakit ini umumnya disertai dengan gejala berupa diare, perut kembung, dan feses berlemak dan berwarna pucat.

4 Cara Mengurangi Kentut

kentut terus
Sumber: iStockPhoto

Untuk mengurangi frekuensi kentut yang kamu alami, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti:

  1. Menghindari Makanan Pemicu. Sebagai gantinya, kamu bisa mengukus makanan yang mengandung gas terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya.
  2. Makan secara Perlahan. Hal ini dapat mengurangi udara yang masuk dalam sistem pencernaan dan juga membuat makanan lebih mudah dicerna.
  3. Minum Air Putih sebelum Makan. Minum air sekitar 30 menit sebelum makan dapat membantu perut mencerna makanan dengan lebih baik dan mengurangi produksi gas.
  4. Berolahraga secara Rutin. Kamu bisa mencoba berbagai jenis olahraga untuk mengatasi keluhan sering kentut, seperti jalan kaki setelah makan, lompat tali, atau berlari.

Nah, itulah informasi yang perlu kamu ketahui tentang penyebab dan cara mengatasi kentut yang terjadi terus menerus. Jika kondisi ini tidak kunjung membaik, kamu perlu mendatangi pusat kesehatan terdekat. Dokter akan memberikan penanganan yang tepat agar kondisimu bisa teratasi.