Kisah Perempuan Tanah Jahanam di Ajang Piala Oscar

Bagi para penyuka film horor dan penggemar Joko Anwar tentu tak akan melewatkan Perempuan Tanah Jahanam. Film yang telah tayang di bioskop Indonesia sejak 17 Oktober 2019 ini berhasil ditonton 500ribu orang dalam waktu empat hari saja.

Diperankan oleh Tara Basro, Marissa Anita, Christine Hakim, dan Asmara Abigail, film Perempuan Tanah Jahanam mendapat banyak pujian dari pencinta film. Joko dinilai mampu menghadirkan film horor tanpa menghadirkan karakter hantu yang menyeramkan seperti film horor pada umumnya.

Perempuan Tanah Jahanam berhasil dinobatkan sebagai pemenang kategori Film Terbaik di Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2020. Penghargaan juga diberikan pada sutradara film Perempuan Tanah Jahanam, Joko Anwar sebagai sutradara terbaik di FFI 2020.

Perempuan Tanah Jahanam juga menyabet sejumlah nominasi lain di antaranya kategori Penyunting Gambar Terbaik, Penata Suara Terbaik, dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik yang diperankan Christine Hakim. Film karya Joko Anwar itu masuk dalam film dengan meraih nominasi terbanyak, yaitu 17 kategori nominasi.

Film ini juga meraih Melies Award for Best Asian Film di Bucheon Internasional Fantastic Film Festival 2020 di Korea Selatan.

Sinopsis Perempuan Tanah Jahanam

Perempuan Tanah Jahanam menceritakan tentang keinginan Maya yang diperankan Tara Basro dalam mengungkap misteri keluarganya. Hal itu berawal saat Maya mengalami permasalahan, termasuk dalam pekerjaannya bersama Dini yang diperankan Marissa Anita. Masalah tersebut membuat Maya ingin rehat sejenak dengan mengunjungi tanah leluhurnya.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah Maya menerima kabar bahwa dirinya bisa menerima harta warisan apabila mengunjungi desa leluhurnya.

perempuan tanah jahanam

Maya pun memilih untuk berkunjung ke desa leluhurnya yang sangat terpencil dan terpelosok bersama Dini, dengan harapan mengetahui keluarganya.

Baca juga:  Met Gala: Sejarah hingga Kabar Terkini Tahun 2024, Ada Tema Baru!

Hanya bekal rasa keingintahuan, Maya tidak sadar bahwa masyarakat sekitar sesungguhnya telah mencarinya dan berencana membunuh Maia karena satu hal.

Tepat di satu malam, Maya menemukan kenyataan rumit tentang masa lalu dan keluarganya yang membuat dirinya harus berjuang menyelamatkan hidup.

Peluang Perempuan Tanah Jahanam di Piala Oscar

Terpilihnya film “Perempuan Tanah Jahanam” atau “Impetigore” sebagai perwakilan film Indonesia untuk bersaing meraih nominasi di kategori film internasional terbaik di ajang Academy Awards 2021 atau Oscar ke-93 mendatang merupakan sebuah kejutan bagi insan perfilman Indonesia.

Pasalnya, ini adalah film horor pertama dalam sejarah, yang pernah diikutsertakan oleh Indonesia, dalam perhelatan ajang bergengsi ini.

Sutradara Joko Anwar, yang telah malang melintang di dunia film, menyebut terpilihnya Perempuan Tanah Jahanam mewakili Indonesia dalam ajang penghargaan film internasional sebagai “angin segar” bagi genre film horor yang selama ini dipandang sebagai “kasta rendah” oleh sineas Indonesia.

perempuan tanah jahanam

Sineas Garin Nugroho, yang sekaligus merupakan ketua komite seleksi film Indonesia untuk ajang Academy Awards, mengakui adanya “kasta” dalam industri film itu dan menegaskan “sudah saatnya ada demokratisasi dalam genre film”.

“Karena kebanyakan kita dari dulu film-film horor dan film action dianggap selalu kelas kedua kan dan oleh karena itu kita komite seleksi selalu memberikan landasan bahwa tidak ada suatu stereotip terhadap genre,” jelas Garin.

Komite seleksi film Indonesia untuk ajang Academy Awards menetapkan Perempuan Tanah Jahanam menjadi wakil Indonesia di ajang Academy Awards dari 59 film yang masuk dalam daftar seleksi.

Setelah terpilih, Perempuan Tanah Jahanam masih harus melalui sejumlah tahapan sebelum akhirnya ditetapkan sebagai nominasi kategori film fitur internasional terbaik pada Academy Awards 2021.

Dalam sepanjang sejarah Oscar, hanya ada 10 film horor yang pernah berjaya dan meraih nominasi, yaitu “Rosemary’s Baby,” “The Exorcist,” “Jaws,” “Alien,” “The Fly,” “Misery,” “The Silence of the Lambs,” “The Sixth Sense,” “The Swan,” dan “Get Out.”

Baca juga:  9 Adegan Paling Epic di Film Pendek Tilik

Di ajang Academy Awards yang diselenggarakan pada tahun 2018, film “Get out,” berhasil meraih empat nominasi bergengsi dan bahkan memenangkan satu diantaranya, yakni naskah asli terbaik.

Walau memang sangat jarang ada film horor di ajang sebesar Oscar, khususnya untuk kategori film internasional terbaik atau yang dulu disebut sebagai kategori film berbahasa asing terbaik, menurut salah satu anggota dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (A.M.P.A.S) asal Indonesia pertama, Amelia Hapsari, “kesempatan itu selalu terbuka.”

Setelah resmi terpilih sebagai perwakilan film suatu negara yang akan dikirim untuk bersaing mendapatkan nominasi Oscar, sebuah film masih harus melalui proses yang panjang, hingga akhirnya bisa mendapat nominasi.

“Banyak yang enggak tahu, pada saat kita mengirim film, itu enggak cuman mengirim film gitu aja. Ada budget lagi yang harus dikeluarkan untuk promote this film di sana, kepada juri-juri yang ada di sana. Mereka harus mengadakan screening-screening ke juri-juri, jadi istilahnya harus ada biaya tambahan untuk itu, gitu,” jelas aktor Lukman Sardi seperti yang dikutip dari VOA.

Hal ini dibenarkan oleh Amelia Hapsari yang mengatakan, selain perlu menarik perhatian ribuan anggota A.M.P.A.S untuk akhirnya mau menonton dan memberikan nominasi kepada sebuah film, ada hal-hal lain yang juga berlu dilakukan.

“Biasanya, dalam kompetisi untuk menjadi nominasi ini, banyak hal yang dilakukan untuk film-film itu (untuk) promosi. Pastinya dia harus kemudian mengusahakan supaya ditulis oleh kritikus-kritikus utama dari seluruh dunia, diberitakan di media-media, sehingga film-film ini masuk ke dalam kesadarannya para anggota Academy (A.M.P.A.S.red). Karena kan pastinya ya, ada banyak, ada puluhan film-film yang berusaha untuk masuk menjadi nominasi,” jelas Amelia.