Mengenang Perjalanan Hidup Sang Burung Merak, WS Rendra

WS Rendra

Siapa sih yang tak kenal sosok WS Rendra dalam kancah seni di Indonesia? Jika berbicara tentang sastra Indonesia, berarti hampir dua puluh persen dari pembicaraan berisi tentang kepiawaan dan kehebatannya dalam meracik kata/diksi menjadi sebuah puisi.

Rendra memang salah satu sosok seniman puisi dan teater yang sangat terkenal di Indonesia. Melalui tangan dinginnya, banyak karya-karya sastra fenomenal yang terlahir mengikuti zaman.

Ingin  kenal lebih dekat dengan WS Rendra? Yuk, simak kisah biografinya di bawah ini.

Awal Mula Kehidupan WS Rendra

rendra muda
Sumber: Tempo

Willibrordus Surendra Broto Rendra (W.S. Rendra) lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 7 November 1935. W.S Rendra adalah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Ia dijuluki “Si Burung Merak”. Julukan ini beliau dapatkan saat jalan-jalan ke kebun binatang Gembiraloka Yogyakarta bersama sahabatnya dari Australia dan melihat seekor burung Merak Jantan dan berkata “Itu Rendra!” kata orang Australia itu. “Dia orangnya suka pamer. Seperti burung merak jantan yang suka memamerkan bulu-bulu indahnya. Dan begitulah W.S. Rendra dijuluki “Burung Merak” oleh teman-temannya di Jogja.

Ayah Rendra bernama R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah. Kedua orang tuanya adalah pelaku seni. Ayahnya adalah seorang pendrama, dan juga guru bahasa Jawa dan bahasa Indonesia di sekolah Katolik di Solo, ibunya adalah seorang penari Serimpi yang sering manggung untuk keraton Solo.

W.S Rendra kecil tinggal dan bersekolah di Solo hingga tamat SMA di St.Yosef. Lulus SMA Rendra pindah ke Jakarta demi meniti kariernya, untuk bersekolah di Akademi Luar Negeri, namun sesampainya di Jakarta ternyata sekolah tersebut sudah tutup. Akhirnya Rendra putar haluan, beliau menuju Yogyakarta dan diterima di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di UGM inilah Rendra menunjukkan bakat seninya.

Baca juga:  Ismail Marzuki, Melawan Penjajah Melalui Musik

Kemudian Rendra mendapatkan beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA) untuk mempelajari lebih jauh tentang dunia seni tari dan drama. Jadilah pada 1964 W.S.Rendra berangkat ke Amerika.

Perjalanan dan Bakat Seni WS Rendra

rendra saat tampil membacakan puisi
sumber : majalah matra

Bakat seni Rendra sudah muncul sejak masih kecil. Sewaktu SMP Rendra pernah menampilkan sebuah drama yang ia namakan “Kaki Palsu“. Dan di SMA beliau juga menampilkan sebuah drama dengan judul “Orang-Orang di Tikungan Jalan” yang menjadi juara satu di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta.

Pada 1952 puisi-puisi ciptaan Rendra mulai dimuat di sebuah majalah yang bernama majalah Siasat. Sejak saat itu puisi-puisi Rendra kerap mewarnai kolom-kolom majalah. Antara lain yang paling terkenal dari puisi-puisi Rendra adalah adalah Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Selain itu puisi-puisi Rendra juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa di antaranya bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Jepang dan bahasa India.

Rendra di Mata Pengamat Sastra, Sahabat, dan Dunia 

Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya: Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern, Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan ’60-an, atau Angkatan ’70-an. Melalui karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Kekaguman pada sosok Rendra diungkapkan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang juga mantan aktivis mahasiswa, Mulyana W Kusumah. “Kemampuan Rendra dalam berpidato juga sangat luar biasa. Saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato selama 15 menit, almarhum berpidato hingga 45 menit tanpa membuat jenuh,” katanya.

Baca juga:  Kisah Inspiratif Sergey Brin, dari Google Hingga YouTube

Di mata Mulyana, dalam hal budaya Rendra belum ada tandingannya. “Dia mempunyai visi dalam hal kebudayaan dan sangat menarik pikiran-pikirannya, bahkan hingga akhir hayat masih berkarya dan berpartisipasi dalam memikirkan negara,” ungkap Mulyana.

Sementara itu, penyair Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa beberapa sajak Rendra yang terbit dalam kumpulan Balada Orang-orang TercintaBlues untuk Bonnie, dan Orang-orang Rangkasbitung adalah karya-karya yang ”tidak tertandingi dalam perkembangan mutakhir penulisan puisi naratif di negeri ini”.

Akhir Kehidupan Sang Burung Merak

ws rendra wafat
Sumber: medcom.id

W.S. Rendra meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun karena menderita jantung koroner. Jenazah WS Rendra kemudian dikebumikan di kompleks Bengkel Teater, Cipayung-Citayam, Depok selepas shalat jum’at.

Banyak sahabat dan masyarakat Indonesia yang merasa kehilangan sang sastrawan ini. Seperti yang dikatakan oleh Budayawan Emha Ainun Nadjib:

“Maka Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Rendra memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik “nyawiji” yang Rendra sudah lama menikmatinya.”

“Tapi sudah pasti kemudian terdengar suara dari seluruh penjuru: “Kita sangat kehilangan”, “Bangsa kita ditinggalkan lagi oleh salah seorang putra terbaiknya”, atau “Tidak. WS Rendra tak pernah pergi. Orang besar tak pernah mati”.”

Tags: , , , , , , , , ,

Berita Terbaru