Menyibak Eksotisme Taman Sari Jogja yang Penuh Keindahan

Taman Sari Jogja merupakan lokasi yang memiliki banyak peninggalan sejarah masa lampau yang kerap dimanfaatkan sebagai tempat wisata edukasi. Secara umum orang mengenal Taman Sari sebagai tempat pemandian raja-raja Yogyakarta, padahal Taman Sari sebenarnya lebih dari sekadar pemandian. Kawasan ini mempunyai 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, lorong-lorong, danau serta pulau buatan, dan masjid bawah tanah.

Taman Sari Jogja, merupakan salah satu bangunan milik Kesultanan Yogyakarta yang difungsikan sebagai destinasi wisata yang tak kalah menarik dari Malioboro. Namun, selain sebagai destinasi wisata, taman sari pada saat tertentu juga masih digunakan sebagai tempat ritual oleh keluarga raja.

Sejarah

Masa setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1785 membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. 

Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air). Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

Bangunan ini merupakan kombinasi antara gaya Barok Eropa abad ke-18 dengan Ottoman, serta arsitektur Mongolia. Menurut cerita, tempat ini dulu dipakai oleh Sultan Hamengku Buwono I untuk beristirahat dan bersantai. Sebuah kolam berukuran kira-kira 12×30 meter dan kedalaman 1-2 meter dengan berbagai hiasan berbentuk unik menambah kesan kuno dan mistis bangunan ini.

Taman Sari Jogja juga dianggap sebagai penghubung lahir dan batin secara tidak langsung, antara sultan dengan rakyatnya. Air yang mengalir melalui Kompleks Taman Sari dipercaya dapat menyuburkan tanah dan menolak hama tanaman.

Baca juga:  7 Fakta Unik Jakarta E-Prix yang Perlu Kamu Tahu

Filosofi

Sejak awal, Taman Sari Jogja dibangun untuk keperluan pertahanan dalam arti secara fisik, namun secara filosofi pesanggrahan Taman Sari memiliki dua nilai yang ingin dideskripsikan. Yakni proses pencarian kesenangan duniawi, yang disimbolkan dengan adanya taman dan kolam yang indah. 

Namun di sisi lain, ada bangunan utama yang disebut sumur gemuling, serta adanya Mihrab (tempat imam) yang biasa digunakan untuk imam salat. Bisa diartikan, sumur gemuling yang menjadi bagian dari Taman Sari tersebut, merupakan simbol ujian bagi seseorang dalam kehidupan di dunia, yakni antara kesenangan duniawi dengan aturan aturan illahi, semua itu digambarkan dalam pesanggrahan Taman Sari maupun pesanggrahan lain.

Menurut berbagai sumber, arsitektur megah dan indah di kompleks Taman Sari ini, merupakan perpaduan dari berbagai macam budaya yang ada. Karena Sultan Hamengku Buwono I adalah seorang pecinta karya seni, dan Taman Sari ini merupakan karya arsitektur monumental pada masa kepemimpinannya. Konon kabarnya, Taman sari juga dikatakan sebagai istana air, yang digunakan untuk tempat pemandian permaisuri serta para putri raja pada masanya.

5 Bagian di dalam Taman Sari Jogja

Kompleks Taman Sari menempati wilayah seluas 10 hektar dan terdiri dari 57 bangunan. Kini kompleks ini sudah jauh berkurang luasnya, sebagian besar dijadikan hunian oleh warga setelah gempa besar meruntuhnya bangunan-bangunannya. Sebagian lagi kini dilestarikan sebagai obyek wisata. Bangunan-bangunan tersebut antara lain.

1. Gedhong Gapuro Hageng

taman sari jogja

Ketika akan memasuki Tamansari, kita akan mendapati gapura besar yang artistik. Bagian itu disebut Gedhong Gapura Hageng atau Gapura Agung. Dulunya gapura ini merupakan pintu gerbang utama Taman Sari. Merujuk dari situs resmi Keraton Jogja, gerbang ini berhiaskan relief burung dan bunga yang merupakan candra sengkala Lajering Kembang Sinesep Peksi. 

Sengkalan memet tersebut menunjuk tahun pembuatan Tamansari, tahun 1691 Jawa atau tahun 1765 Masehi. Di balik gapura terdapat tangga yang menuju ke pelataran di atas gedhong. Dari pelataran ini bisa terlihat pemandangan di bawah gapura. Pintu gerbang ini semula berhiaskan patung empat ekor naga yang ekornya saling melilit. Patung ini merupakan sengkalan memet yang berbunyi Catur Naga Rasa Tunggal, merujuk tahun 1684 Jawa sebagai tahun pendirian gapura tersebut.

Baca juga:  Mengenal Brunch dan 7 Tempat Favoritnya di Jogja

2. Pasiraman Umbul Binangun

Sumber: hargatiket.net

Namanya mungkin terdengar asing, tapi inilah nama area pemandian yang ikonik itu. Di dalamnya terdapat tiga kolam pemandian yakni, Umbul Kawitan (tempat pemandian putri-putri raja), Umbul Pamuncar (tempat pemandian istri dan selir-selir raja), dan Umbul Panguras (tempat pemandian khusus sang raja).

3. Gedong Sekawan

Di sebelah timur Umbul Binangun, terdapat sebuah halaman berbentuk segi delapan dengan empat buah bangunan yang sama. Bangunan tersebut dinamakan Gedong Sekawan. Masing-masing bangunan memiliki ukuran 5,50×6,50 meter dan tinggi keseluruhan 5 meter. Gedong Sekawan, merupakan tempat istirahat Sultan dan keluarganya.

4. Sumur Gamuling

Sumber: travel.wego.com

Tempat cantik lain di Taman Sari Jogja ialah Sumur Gumuling. Sumur ini bukan sumur tempat ambil air, namun sebuah masjid bawah tanah. Masjid dibangun di bawah tanah, juga sekaligus sebagai bungker perlindungan bagi elit kesultanan, ketika kesultanan mengalami serangan yang membahayakan.

Masjid tersebut berbentuk dua tingkat melingkar hingga 360 derajat, bagian tengah berlubang dan desain menghasilkan tata artistik. Ketika imam memimpin sholat, suara imam akan terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

Di dalam bangunan Masjid bawah tanah ini terdapat sumur yang dikelilingi oleh lima tangga yang melambangkan jumlah rukun Islam. Saat pengunjung menuruni anak tangga yang berada di Masjid bawah tanah, pengunjung akan menemukan tangga yang saling bertemu di tengah-tengah kolam air yang berasal dari Sumur Gumuling.

Untuk bisa sampai ke dalam Masjid kamu harus melewati sebuah gerbang terlebih dahulu yang memiliki tingkat dua. Pada zaman dahulu, menara ini sering digunakan oleh para raja untuk mengawasi para selirnya ketika tengah mandi di Umbul Kuras.

5. Pulo Kenanga

Pulo Kenanga masih dalam area Taman Sari. Lokasi ini tak jauh dari Pasar Ngasem. Pulo Kenanga mirip puing-puing bangunan kuno di luar negeri. Lokasinya yang artistik kerap menjadi spot untuk pengambilan foto pre wedding. Gedong Pulo Kenanga berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan beberapa kegiatan seni, dan untuk melihat panorama sekitar kompleks pasanggrahan Tamansari dan sekitar keraton.