Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Tepat

Anak tantrum dengan cara menjerit dan menangis pasti membuat orang tua kebingungan. Terlebih jika tantrum tersebut terjadi di tempat umum. Namun sebagai orang tua, tetap usahakan untuk bersabar menghadapi anak yang tantrum, ya. Kamu bisa menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membujuk anak yang sedang tantrum. Tenangkan diri dan anggap bahwa fase tantrum tersebut akan berlalu. Pastikan kamu tidak pernah sekalipun berlaku kasar pada anak, karena dapat berefek negatif bagi tumbuh kembang anak. 

Berikut ini ulasan menarik tentang apa itu tantrum, apa saja penyebabnya, hingga bagaimana cara mengatasi tantrum yang perlu kamu pahami.

Apakah Tantrum itu Wajar?

anak tantrum

Pada dasarnya, tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan anak, terutama saat memasuki usia 15 bulan sampai dengan 6 tahun. Makanya, kondisi ini sebenarnya dianggap wajar terjadi pada anak-anak Hal ini pun disetujui oleh Andy C. Belden, PhD, seorang psikolog perkembangan anak. Di mana Belden mengatakan dalam laman WebMD bahwa setiap anak sangat mungkin mengalami gejala ini. Ketika anak tantrum, Belden pun mengimbau agar para orang tua selalu mengawasi anak-anak dan mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak.

Tantrum menjadi suatu masalah dan perlu diwaspadai ketika anak memiliki frekuensi mengamuk yang berlebihan, terlampau sering, dan sulit untuk dikendalikan. Kalau sudah begini, maka jangan ragu untuk membawa anak berkonsultasi ke dokter atau psikolog anak, ya. Pasalnya, jika gejala ini terjadi secara berlebihan maka bisa menjadi tanda bahwa ada masalah pada perkembangan anak. Tentu saja kamu tidak ingin hal tersebut terjadi, bukan?

Baca juga:  Tips Mendidik dan Merawat Anak dengan Kecenderungan ADHD

Apa Saja Penyebab Tantrum?

anak tantrum

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa tantrum sejatinya adalah bentuk emosi anak yang tidak terkendali. Sama seperti demam, penyebab tantrum juga ada banyak sekali. Beberapa yang paling umum di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Anak mencari perhatian. Cara mencari perhatian ini pun beragam, bisa dengan melakukan hal-hal baik, sampai memprotes berbagai hal dengan cara yang agresif. Anak-anak mungkin akan berteriak keras, menangis, hingga mengamuk tidak karuan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.
  2. Anak yang sedang kelaparan biasanya akan cenderung menjadi uring-uringan. Oleh karena itu, jika seorang anak tiba-tiba rewel tanpa sebab yang jelas, jangan langsung panik. Cobalah untuk memberikan dirinya makanan, atau minuman terlebih dulu.
  3. Penyebab lainnya anak tantrum bisa juga karena keinginan yang tidak dituruti. Misalnya, orang tua tidak membelikan mainan yang diminta oleh anak. Akibatnya, anak akan meluapkan amarah dan rasa kecewanya dengan cara berteriak, melempar benda yang ada disekitarnya, atau mungkin menyakiti dirinya sendiri.
  4. Karena anak-anak senang bermain ke sana kemari, maka tanpa disadari hal tersebut membuat mereka kelelahan. Bagi beberapa anak, mungkin sulit untuk menyampaikan rasa lelah ke orangtuanya. Sebaliknya, mereka akan lebih memilih menangis dan rewel.
  5. Tantrum yang dialami anak mungkin juga bisa disebabkan karena dirinya sedang mengalami kecemasan. Sekalipun anak tidak memiliki gangguan kecemasan yang menyeluruh, namun mereka mungkin masih terlalu reaktif terhadap situasi-situasi yang memicu kecemasan. Hal ini bisa jadi disebabkan karena takut ruangan yang gelap, takut ditinggal orang tua, susah tidur dan berkonsentrasi, atau menjadi korban bullying.

Bagaimana Cara Mengatasi Tantrum?

anak tantrum

Tantrum pada anak tidak boleh dibiarkan terjadi terus-menerus karena bisa menjadi kebiasaan yang buruk dan dapat mempengaruhi perkembangannya di kemudian hari. Jadi, sebagai orang tua kamu bisa mencoba menghentikan tantrum pada anak dengan melakukan beberapa cara berikut ini:

  1. Bersikaplah tetap tenang dan jangan membalas berteriak atau memaksa anak menghentikan amukannya. Sikap yang tenang akan membuat tantrum pada anak lebih mudah untuk diatasi. Kamu juga bisa mengajak anak ke tempat yang lebih sepi dan tenang untuk menenangkan emosinya.
  2. Cari tahu apa penyebab tantrum. Jika anak belum bisa berbicara, maka salah satu cara untuk mengenali penyebabnya adalah dengan menanyakan secara langsung. Anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng. Jika penyebab tantrum anak sudah diketahui, maka kamu akan lebih mudah mengatasinya.
  3. Mengalihkan perhatian anak. Misalnya, kamu bisa memberikan mainan yang sudah lama tidak dimainkan atau memberikan cemilan kesukaannya saat anak berteriak, marah, atau terlihat rewel.
  4. Jangan memukul atau mencubit anak. Sebagai gantinya, kamu bisa memeluk atau mencium anak untuk menenangkan emosinya. Selain menenangkan, pelukan dan ciuman juga bisa menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa orang tuanya benar-benar peduli dan mencintai mereka.
Baca juga:  Leukosit Tinggi pada Anak: Penyebab hingga Dampak Buruknya

Itulah beberapa ulasan menarik tentang tantrum yang perlu kamu pahami. Meskipun tantrum pada anak dianggap wajar terjadi, namun kamu juga tetap harus waspada. Jika tantrum pada anak terjadi terlalu sering, dan membuatnya menyakiti dirinya atau orang lain, sebaiknya kamu segera berkonsultasi dengan dokter anak. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan perilaku tersebut dan mengetahui cara tepat untuk menanganinya.