Ingin Investasi Berhasil? Yuk Berkenalan dengan Saham Blue Chip

saham blue chip

Belum terlalu paham tentang saham tapi tertarik untuk melakukan investasi seperti orang lain? Ragu-ragu ingin membeli saham perusahaan mana yang sekiranya mendatangkan keuntugan dan aman untuk jangka panjang? Tenang, kamu bisa membeli saham blue chip.

Apa itu Saham Blue Chip?

perdagangan saham
sumber : MarketBisnis.com

Saham Blue Chip atau Saham Lapis Satu merupakan jenis saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar, mencapai di atas Rp10 triliun.

Istilah Blue Chip sendiri awalnya berasal dari permainan poker. Dalam permainan poker, keping koin (chip) berwarna biru memiliki nilai tertinggi dibandingkan warna merah dan putih. Istilah Blue Chip dipakai dan dikenal secara luas di dunia saham setelah diperkenalkan oleh Oliver Gingold. Saat itu, Gingold melihat tren bahwa saham-saham seharga USD 200-USD 250 menarik minat investor. Sejak saat itu, penggunaan terminologi Blue Chip digunakan untuk saham-saham unggulan di dunia pasar modal.

Ciri-Ciri Saham Jenis Blue Chip

ciri-ciri saham blue chip
sumber : cermati.com

Punya Kapitalisasi Besar

Seperti yang dijelaskan di atas, saham ini merupakan saham dari perusahaan besar yang labanya stabil. Besar dan stabil itu harus bisa dibuktikan juga dengan modal dan asetnya, serta kapitalisasi pasarnya.

Maksudnya kapitalisasi apa sih? Itu adalah harga perusahaan jika pengin “dibeli” secara utuh. Kapitalisasi bisa dihitung dengan cara mengalikan harga saham dengan jumlah lembar saham yang beredar di pasaran.

Kalau dibilang kapitalisasinya besar, lantas berapa rupiah sih kapitalisasi sebuah perusahaan itu bisa dikatakan besar? Buat penggolongannya itu sendiri biasanya ketika kapitalisasinya mencapai Rp10 triliun ke atas maka udah dikatakan besar.

Sedangkan kalau kapitalisasinya antara Rp500 miliar hingga Rp10 triliun, maka sahamnya bakal dikategorikan sebagai saham lapis dua. Dan buat Rp500 miliar ke bawah, tentu saja masuk lapis tiga.

Sudah Ada di Bursa Saham dalam Jangka Waktu Lama

Sejatinya, lamanya sebuah saham di bursa nggak lantas menjadikan saham tersebut tiba-tiba jadi blue chip. Tapi kalau udah lama dan perusahaan tersebut mengalami peningkatan laba dan perkembangan yang signifikan, nah baru deh sahamnya bisa ditentukan bakal jadi blue chip atau tidak.

Baca juga:  7 Alat Pembayaran Non Tunai Praktis Tapi Bisa Bikin Kantong Tipis

Ramai Diperdagangkan

Ramai diperdagangkan bisa disebut juga “likuid.” Jadi, banyak investor perorangan atau lembaga yang memiliki dan memperdagangkan saham ini. Saham-saham kategori blue chip juga selalu masuk ke daftar teraktif di bursa.

Mungkin kamu pernah dengar istilah LQ45. Nah LQ45 adalah indeks yang isinya saham-saham likuid. Rata-rata saham unggulan jenis blue chip ada di indeks tersebut.

Tapi bukan berarti semua yang di LQ 45 itu blue chip ya. Bisa jadi ada saham yang emang saat itu karena sektornya lagi ramai, bukan karena laba perusahaannya lagi menanjak.

Saham dari Perusahaan yang Jadi Market Leader

Nah, tolak ukur ini bisa jadi cara yang termudah buat menentukan sebuah saham itu bisa dikatakan blue chip. Sebut aja seperti Astra (ASII), atau PT Telkom (TLKM).

Keduanya adalah perusahaan yang jadi market leader di sektornya. Produk-produk mereka kerap digunakan masyarakat. Atau sebut aja deh, bila perusahaan tersebut bisa “memonopoli” pasar, maka udah pasti sahamnya ya jadi blue chip.

Apa Saja Saham Blue Chip yang Terdaftar di BEI?

bursa efek indonesia
sumber : IDX Chanel

Faktanya tidak semua saham blue chip itu ada di Indeks LQ 45. Tapi sebagian besar dari LQ45 adalah blue chip. Sampai saat ini pun belum ada laporan update mengenai daftar mana yang blue chip dan mana yang bukan.

Tapi untungnya, sejumlah media seringkali menyebut 20 nama saham yang sering disebut blue chip. Inilah deretan sahamnya.

  • Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI): Konstruksi
  • Adaro Energy Tbk (ADRO): Tambang
  • AKR Corporindo Tbk (AKRA): Logistik
  • Aneka Tambang Tbk (ANTM): Tambang
  • Astra International Tbk (ASII): Otomotif
  • BCA Tbk (BBCA): Perbankan
  • BNI Tbk (BBNI): Perbankan
  • Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Perbankan
  • Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN): Perbankan
  • BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR): Perbankan
  • Mandiri Persero Tbk (BMRI): Perbankan
  • Global Mediacom Tbk (BMTR): Media
  • Barito Pasific Tbk (BRPT): Kimia
  • Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE): Properti
  • Bumi Resource Tbk (BUMI): Tambang
  • Gudang Garam Tbk (GGRM): Rokok
  • HM Sampoerna Tbk (HMSP): Rokok
  • Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Makanan
  • Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (TLKM):  Telekomunikasi
  • United Tractors Tbk (UNTR) Alat berat
Baca juga:  Penting! Mengapa Perlu Mempersiapkan Dana Pensiun

Kapan Saat yang Tepat untuk Membeli Saham Lapis Satu?

Setelah kamu tahu pengertiandan keunggulannya ketimbang saham lapis dua dan tiga, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kamu tertarik buat investasi?

Sebelum kamu berinvestasi, tentu aja kamu harus ketahui dulu apa yang jadi tujuanmu dalam investasi, dan investasi seperti apa yang bakal kamu lakukan? Apakah itu jangka pendek atau jangka panjang.

Nah kalau dilihat dari harga saham per lembar, saham yang satu ini emang gak murah. Tapi dari sisi kestabilan, tentu saja bagus.

Oleh karena itu, investasi saham unggulan ini memang pas buat investasi jangka panjang. Jika kamu tertarik buat berinvestasi jangka pendek, beli saja saham yang lapis dua. Dan gunakan rumus investasi beli saat turun jual saat naik. Selesai deh.

Selain jangka panjang, investasi ini juga cocok buat mereka yang baru ingin belajar berinvestasi di sektor saham. Seperti yang dijelaskan di atas, fluktuasi nilai saham jenis blue chip juga tidak terlalu tinggi. Itu yang bikin risiko investasi dengan membeli saham ini cukup rendah.

Bagaimana Cara Membelinya?

Cara membelinya tidak berbeda dengan cara beli saham pada umumnya. Pertama-tama, kamu harus membuka rekening saham di broker atau perusahaan sekuritas terpercaya, yaitu yang merupakan Anggota Bursa di BEI. 

Setelah itu, kamu harus membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) di bank dan membuka Rekening Saham di broker. Agar bisa melakukan transaksi saham, kamu perlu menyetorkan dana ke RDN. Jika sudah memiliki RDN yang berisi dana, kamu bisa memulai untuk order beli ataupun order jual yang kamu inginkan melalui aplikasi perdagangan saham di broker

Mudah bukan,sekarang kamu bisa mengenali saham blue chip, membelinya dan berinvestasi dengan  tenang. Salam sukses!

Tags: , , , , , ,

Berita Terbaru