Tampek pada Bayi, Kenali Jenis-Jenis dan 6 Cara Mengatasinya

Sudah tahu belum, kalau penyakit campak atau tampek pada bayi disebabkan oleh virus morbili yang termasuk dalam keluarga paramyxovirus? Ternyata, virus ini dapat bertahan di udara dan permukaan hingga lebih dari dua jam, lho. Cara penularannya adalah melalui kontak langsung serta percikan air di udara dari ludah, batuk, dan bersin dari penderita. Tidak hanya itu saja, bayi juga bisa tertular penyakit ini jika menyentuh barang yang terkontaminasi virus.

Bayi yang masih memiliki daya tahan tubuh lemah sangat rentan terserang penyakit tampek ini. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka dapat mengakibatkan komplikasi yang parah hingga kematian. Jika virus morbili menyerang pencernaan, maka akan mengakibatkan muntah dan diare hebat pada bayi. Selain itu, tampek pada bayi juga bisa menyebabkan komplikasi berupa radang paru-paru (pneumonia) yang akan membuat bayi sesak napas. Ada lagi komplikasi fatal lainnya, yaitu berupa radang otak (ensefalitis) yang menyebabkan kejang-kejang dan menurunnya kesadaran.

Sebelum mengetahui bagaimana cara menangani dan mengobati tampek pada bayi, mari kenali dulu jenis-jenis tampek di bawah ini. 

Mengenal Jenis-Jenis Tampek atau Campak

tampek pada bayi
Sumber: Freepik

Berdasarkan jenis virus penyebabnya, tampek atau campak dikategorikan ke dalam tiga jenis, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Tampek Jerman (Rubella)

Tampek yang satu ini disebabkan oleh virus rubella yang media penularannya melalui udara yang sudah terkontaminasi oleh bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi. Rubella biasanya akan menjangkiti anak yang usianya sudah lebih besar atau orang dewasa, di mana gejalanya baru berkembang pada 2-3 minggu setelah terinfeksi dan cenderung ringan, sehingga sulit untuk diketahui. Di antaranya seperti demam, nyeri otot, muncul ruam merah yang dimulai dari wajah lalu menyebar ke tubuh, hingga pembengkakan kelenjar getah bening. 

2. Tampek Bayi (Roseola Infantum)

Jenis tampek ini disebabkan oleh virus yang media penularannya melalui udara. Gejala-gejalanya hampir sama dengan tampek Jerman (rubella). Hanya bedanya, tampek jenis ini biasanya menyerang bayi berumur antara 6-12 bulan, sementara rubella lebih sering menyerang balita. Tampek jenis ini sebetulnya tidak akan berbahaya selama penderitanya mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca juga:  Kartu Identitas Anak: Syarat dan Cara Membuatnya

3. Tampek Rubeola

Tampek yang berikutnya adalah tampek rubeola yang disebabkan oleh virus rubeola yang bisa menular saat bersentuhan secara langsung dengan cairan yang keluar dari tubuh penderita atau langsung melalui udara. Virus ini juga dapat hidup di udara sampai dua jam, sehingga bayi bisa saja tertular ketika ada di sebuah ruangan bekas si penderita berada. Gejala tampek rubeola antara lain adalah batuk dan pilek, suhu tubuh tinggi hingga 40 derajat celcius pada hari ke-10 sampai 12 setelah terinfeksi virus, mata sensitif terhadap cahaya terang. Hingga muncul ruam merah setelah 15 hari, dimulai dari area belakang telinga, leher, kemudian menyebar ke semua tubuh. 

Bagaimana Gejala Tampek yang Sering Dialami Bayi? 

Pada umumnya, gejala tampek pada bayi akan muncul pada 1 hingga 2 minggu setelah bayi terinfeksi virus. Biasanya, bayi akan mengalami beberapa gejala, di antaranya adalah demam tinggi hingga 40 derajat celcius, batuk kering, mata merah dan berair, bersin, sensitif terhadap cahaya, dan nafsu makannya berkurang.

Sementara itu, pada hari ke-3 atau ke-4, gejala di atas akan semakin muncul, disertai dengan munculnya bintik-bintik putih keabuan pada mulut dan leher bayi. Setelah itu, akan muncul juga ruam merah yang dimulai di daerah sekitar telinga, kepala, leher, hingga menyebar ke seluruh tubuh. Ruam merah tersebut biasanya akan muncul sekitar hari ke-4 atau ke-5 setelah gejala awal tampek muncul. Dan biasanya ruam merah ini akan bertahan selama 5-6 hari, sedangkan gejala demam tinggi umumnya mulai turun pada hari ke-3 setelah munculnya ruam. 

Cara Mengatasi Tampek pada Bayi

tampek pada bayi
Sumber: Freepik

Tampek pada bayi pada dasarnya adalah suatu penyakit yang bersifat self limiting disease yang dapat sembuh sendiri tanpa obat-obatan. Meski begitu, sebagai orang tua kamu pasti merasa was-was dan khawatir melihat bayi mengalami tampek. 

Maka dari itu, kamu juga perlu mengetahui pertolongan utama tampek pada bayi supaya terhindar dari komplikasi yang lebih serius. Berikut ini ada beberapa cara mengatasi tampek pada bayi yang bisa dilakukan:

Baca juga:  Nafas Bayi "Grok-Grok", Apakah Berbahaya?

1. Cukupi Cairan yang Dibutuhkan Tubuh Bayi

Saat bayi mengalami tampek, sangat penting bagi kamu untuk mencukupi kebutuhan cairan hariannya dengan tepat. Hal ini penting untuk mencegah bayi mengalami dehidrasi, sekaligus berfungsi sebagai pengganti cairan yang hilang saat ia muntah dan diare.

Bagi bayi di bawah usia 6 bulan, maka bisa diperbanyak pemberian ASI. Namun, jika sudah memasuki usia MPASI, maka bisa diberikan cairan tambahan berupa air putih, jus buah, atau susu formula sesuai anjuran dari dokter. 

2. Perbanyak Waktu Istirahat

Bayi harus banyak istirahat untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya supaya kuat dalam melawan virus yang berkembang di dalam tubuhnya. Untuk sementara, kurangi dahulu aktivitas fisik dan bermain bayi. Supaya tidak bosan, bisa dibacakan buku cerita atau dongeng bersama. 

3. Berikan Makanan yang Bernutrisi

Saat bayi sudah mengonsumsi MPASI, pastikan kamu memberikannya makanan bergizi seimbang, termasuk sumber protein hewani, seperti susu, telur, ikan, daging merah, dan daging putih. Susu yang dimaksud di sini adalah ASI karena ASI adalah nutrisi utama yang penting bagi bayi.

Namun, jika karena sesuatu hal sebagai ibu kamu tidak bisa memberikan ASI, maka bayi juga bisa mengonsumsi susu bubuk pertumbuhan yang tentunya sudah sesuai dengan anjuran dari dokter. 

4. Batasi Kontak dengan Lingkungan Luar

Mengingat penyakit tampek pada bayi ini sangat mudah menular, maka untuk sementara waktu bayi harus dibatasi dulu kontak langsung dengan lingkungan luar. Batasi kontak dengan lingkungan di sekitarnya untuk menghindari penularan terhadap anak lainnya, dan jangan ajak bayi bepergian atau bertemu dengan orang lain hingga demam dan ruamnya hilang.

5. Mandikan Secara Rutin Sesuai Jadwal

Faktanya, bayi yang terkena penyakit tampek tetap boleh mandi saat demamnya sudah turun untuk menjaga kebersihan dan mengurangi gatal akibat ruam. Hal ini penting, sebab jika tidak mandi maka kulit justru terasa gatal sehingga bayi akan mencoba untuk menggaruk kulit yang bisa mengakibatkan infeksi pada ruamnya. Kamu hanya perlu mengeringkan tubuh bayi setelah dimandikan dengan kain lembut, lalu berikan bedak gatal pada badannya.

6. Berikan Vaksin MMR

Vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) dapat diberikan mulai bayi usia 9 bulan yang bisa didapatkan secara gratis melalui program pemerintah setiap bulan Agustus dan September di Posyandu, Puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Jika bayi belum mendapatkannya, maka segera ke fasilitas kesehatan terdekat, ya.

Jadi, sudah tahu kan kalau penyakit tampek pada bayi bisa berbahaya? Jika sudah terdapat gejala-gejala awal, jangan tunda lagi untuk membawa bayi ke dokter dan pastikan bayi mendapatkan penanganan yang tepat sebelum terlambat.