Tekstur MPASI yang Tepat Sesuai Usia Bayi, Mulai 6 Bulan

Selama 6 bulan pertama hidupnya, bayi hanya mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh melalui ASI atau susu formula. Setelahnya, kamu perlu mengenalkan makanan padat untuk memenuhi kebutuhan gizinya, yaitu MPASI. Makanan pendamping ASI ini diikuti dengan pengenalan rasa dan tekstur sesuai usia. Tekstur yang tidak sesuai dengan usia bisa menyebabkan anak mengalami tersedak. Selain itu, tekstur MPASI juga sebaiknya naik secara bertahap sehingga anak tidak malas untuk mengunyah.

Pada tahap awal, bayi membutuhkan tekstur yang lembut dan nantinya mulai berubah menjadi tekstur yang lebih kasar. Perubahan tekstur secara bertahap ini penting dilakukan pada pemberian MPASI. Sebab, hal ini dapat membentuk kebiasaan dan keterampilan makan pada bayi hingga besar nanti. Dengan terus meningkatkan tekstur makanan, bayi akan membiasakan diri pada perkembangan baru. nah, bagaimana jenis tekstur untuk makanan pendamping ASI mulai 6-12 bulan ke atas? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

tekstur mpasi
Sumber: iStockPhoto

Macam Tekstur MPASI pada Bayi

1. Usia 6 Bulan

tekstur mpasi
Sumber: iStockPhoto

MPASI mulai diberikan pada bayi usia 6 bulan. Ini merupakan tahap awal baginya merasakan makanan padat masuk ke dalam mulutnya. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk memberikan tekstur yang lembut seperti bubur. Perhatikan konsistensi bubur/puree saat memberikan MPASI kepada bayi di usia ini. Pastikan makanan bayi tidak terlalu cair atau terlalu kental untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan baik.

Tekstur yang lembut pada MPASI bertujuan untuk mencegah risiko tersedak yang dapat membahayakan bayi. Dengan memastikan makanan memiliki tekstur yang lembut dan mudah dikunyah, artinya kamu menjaga keamanan saat bayi sedang belajar makan makanan padat. Saat mencoba makanan padat pertama kali, kebanyakan bayi akan menolak hingga melepehnya. Tak perlu khawatir, karena itu hal yang wajar terjadi saat bayi mencoba makanan padat.

Perlu diingat bahwa MPASI adalah proses belajar makan, apalagi sebelumnya bayi hanya mengonsumsi ASI. Jadi, perlu kesabaran ekstra dalam proses pemberian MPASI pada bayi. Gunakan blender untuk membuat tekstur yang halus pada makanan MPASI bayi. Pastikan makanan benar-benar lembut sehingga mudah dikonsumsi. Untuk porsi makanannya, kamu dapat mulai dengan memberikan sekitar 2-3 sendok makan makanan padat untuk setiap kali makan.

Baca juga:  Penanganan Diare pada Bayi, Apa Gejalanya?

2. Usia 7-8 Bulan

tekstur mpasi
Sumber: iStockPhoto

Untuk bayi berusia 7–9 bulan, tekstur makanan ditingkatkan kekentalannya secara teratur, misalnya setiap dua minggu. Bila awalnya bayi mengonsumsi bubur, tingkatkan teksturnya hingga menjadi agak kental. Di atas 8 bulan, sebaiknya MPASI tidak lagi dihaluskan menggunakan blender. Makanan bayi bisa dilumatkan dengan masher saja. Dengan begitu, meski makanan tergolong lumat, masih ada komponen padat didalamnya.

3. Umur 9-11 Bulan

tekstur mpasi
Sumber: iStockPhoto

Bayi usia 9 bulan mulai bisa diberikan nasi tim. Tingkatkan jumlah MPASI secara perlahan hingga menjadi 180–200 ml pada usia 9 bulan. Pemberian MPASI bisa terus meningkat menjadi 3 kali sehari, dengan menyelipkan camilan (buah atau biskuit bayi) 1–2 kali sehari. Beberapa bayi juga mulai tumbuh gigi pada periode ini. Selain itu, kemampuan motorik halus bayi semakin meningkat. Ia mulai mahir memegang sendok dan mengarahkannya ke mulut.

Untuk meningkatkan kemampuan motorik dan cara mengunyah makanan, kamu dapat mulai memperkenalkan makanan padat untuk si Kecil dengan tekstur yang lebih beragam. Pilihan tekstur makanan bisa mencakup makanan yang dicincang halus (minced) dan makanan yang dicacah lebih kasar (chopped). Selain itu, kamu juga dapat memperkenalkan finger food untuk bayi pada usia ini. Sajikan makanan yang lebih mudah untuk dimakan sendiri, dan tidak ada risiko bikin tersedak.

4. Umur 12 Bulan ke Atas

tekstur mpasi
Sumber: iStockPhoto

Memasuki tahun pertamanya, kamu dapat mengajak bayi untuk makan bersama dengan keluarga. Bayi sudah boleh untuk mengonsumsi makanan seperti yang anggota keluarga lainnya makan. Pada usia ini, bayi mampu beradaptasi dengan berbagai bentuk makanan yang orang dewasa sajikan, meskipun belum mampu mengunyah makanan dengan sempurna.

Perlu diingat bahwa kemampuan mengunyahnya masih dalam tahap perkembangan. Maka dari itu, kamu harus menyajikan porsi makanan secara bertahap. Sebagai panduan umum, kamu bisa mulai secara perlahan dengan porsi sekitar tiga perempat dari mangkuk berukuran 250 ml untuk setiap kali makan. Ketika bayi usia 12-15 bulan masih menolak makanan padat bertekstur atau mengalami kesulitan dalam menelan berbagai jenis finger food, penting untuk Mama berkonsultasi dengan dokter anak.

Manfaat Pemberian Makanan pada Bayi Sesuai Tekstur

Meningkatkan tekstur makanan pada bayi dapat membantu dalam melatih keterampilan makan dan mengunyah agar ia semakin terbiasa untuk makan makanan padat. Setelah bayi terbiasa dengan makan makanan padat dari berbagai tekstur, ia akan belajar untuk makan sendiri. Meskipun saat masa peralihan tekstur makanan, bayi mungkin belum tumbuh gigi. Namun ia masih mampu mengunyah dengan gusinya. Proses ini memiliki manfaat dalam mencegah kesulitan makan di masa depan ketika bayi terus tumbuh dan berkembang.

Baca juga:  Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab hingga Cara Menyikapinya

Pemberian MPASI dengan meningkatkan tekstur secara bertahap juga diperlukan untuk mencegah risiko tersedak makanan. Sebab ketika memulai mencoba makan makanan padat, bayi masih belum mempunyai kemampuan makan yang baik. Maka dari itu, penting bagi ibu untuk selalu memperhatikan kemampuan makan dan tekstur makanan yang diberikan kepada anak.

Kurangnya variasi dalam pemberian MPASI bayi, termasuk teksturnya, dapat menyebabkan berkurangnya minat si Kecil dalam makanan dan menolak untuk mengunyah makanan. Hal ini mengakibatkan bayi akan terbiasa makan dengan langsung menelan saja tanpa harus dikunyah terlebih dahulu.

Kapan Bayi Siap Naik Tekstur?

Berikut ada 3 ciri utama bayi bisa “naik kelas” ke tekstur makanan berikutnya.

  1. Kemampuan motorik kasar dan halus sesuai usia atau lebih maju dibanding usia.
  2. Anak tertarik melihat makanan yang lebih keras, atau tertarik melihat makanan yang dimakan orang tua.
  3. Porsi makan yang disiapkan bisa dihabiskan.

Tanda di atas tidak mutlak. Orang tua harus mendampingi saat bayi mulai mencoba tekstur yang lebih padat. Kita tidak perlu khawatir bila bayi mengalami gagging. Pantau sampai proses gagging selesai, kemudian berikan air putih. Pastikan anak tidak tersedak yang ditandai dengan tanda bahaya seperti anak menjadi biru atau sulit membatukkan makanannya.

Gagging perlu dibedakan dengan choking (tersedak). Pada gagging, seorang anak dapat menjulurkan lidahnya, melepehkan makanannya, dan batuk untuk mencegah masuknya makanan tersebut ke jalan napas. Sebaliknya pada choking (tersedak) yang artinya makanan telah masuk ke saluran napas, maka gejala yang ditimbulkan dapat berupa anak “diam” dan tidak bersuara, serta kebiruan. Jika sumbatannya tidak pada seluruh jalan napas maka dapat terdengar bunyi mengi.

Demikian penjelasan lengkap mengenai tekstur makanan bayi di atas 6 bulan. Seiring dengan kenaikan tekstur, kamu bisa mulai membuat puding buah, puding roti, atau memberikannya buah potong. Bahkan, tidak masalah jika hanya memberikan anak camilan berupa ASI atau susu UHT untuk anak yang sudah berusia lebih dari 1 tahun. Konsultasilah ke dokter anak jika bayi susah naik tekstur atau terjadi ketidaknyamanan saat makan MPASI.